Flash News
No posts found

Saat Dekat Kaum Remaja, Masalah Ini Yang Sering Dikampanyekan Bupati

Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat berada di tengah – tengah kalangan remaja, untuk mengkampanyekan stop pernikahan dini.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz saat berada di tengah – tengah kalangan remaja, untuk mengkampanyekan stop pernikahan dini.

Rembang – Bupati Rembang, Abdul Hafidz mendorong supaya kaum remaja menghindari pernikahan dini atau belum cukup umur.

Hafidz merasa prihatin sebagai kabupaten layak anak, ternyata praktek semacam itu masih kerap terjadi, terutama di pelosok pedesaan. Bupati kemudian membeberkan hasil penelitian, berbagai dampak negatif yang rawan ditimbulkan dari pernikahan dini. Bagi wanita, akan beresiko terkena penyakit kanker mulut rahim, keguguran maupun gangguan reproduksi lainnya. Belum lagi efek sosial ekonomi terhadap kelangsungan rumah tangga kedepan.

Maka Hafidz menyarankan, untuk kaum wanita jangan nekat menikah pada usia 14 – 16 tahun. Kalau wanita naik pelaminan, sebaiknya minimal berumur 18 tahun. Sedangkan bagi laki – laki, minimal 21 tahun atau lebih baik sudah menginjak 25 tahun, guna mematangkan persiapan fisik maupun mental. Ia tak ingin warganya cepat menikah, namun tak kuat bertahan lama, akhirnya berujung perceraian.

Lebih lanjut Abdul Hafidz memberikan semangat kepada remaja di kabupaten Rembang supaya giat bersekolah, paling tidak lulus SMA sederajat. Jika memiliki prestasi akademik yang bagus, Pemkab Rembang siap membantu menguliahkan sampai meraih gelar Sarjana. Hal itu sudah menjadi tekadnya, agar anak – anak di kabupaten Rembang mempunyai masa depan lebih baik, dibandingkan generasi terdahulu.

Sementara itu seorang pendidik di kecamatan Bulu, Ahmad Mukhayat mengaku gagasan kuliah gratis bagi lulusan SMA sederajat berprestasi yang digulirkan Pemkab Rembang, masih banyak yang belum mengetahui. Ia berharap ada sosialisasi menyeluruh, terkait kriteria nilai, standar berprestasi seperti apa, penerima bantuan dari keluarga yang bagaimana, mekanisme pengajuannya, serta tekhnis transfer dana bantuan. Selama ini kerap lulusan berprestasi dari keluarga miskin belum bisa kuliah, lantaran ketiadaan biaya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *