Flash News
No posts found

Diduga Terlibat Menghalangi Kerja Wartawan, Pria Ini Masih Bebas Berkeliaran

Zaenal Affandi (paling kanan), pekerja PLTU Sluke enggan menanggapi pertanyaan wartawan, seusai sidang di Pengadilan Negeri Rembang, Senin siang (17/07).

Zaenal Affandi (paling kanan), pekerja PLTU Sluke enggan menanggapi pertanyaan wartawan, seusai sidang di Pengadilan Negeri Rembang, Senin siang (17/07).

Rembang – Ada seorang pekerja PLTU Sluke yang diduga aktif mengintimidasi wartawan saat liputan korban kecelakaan kerja di rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang bulan Agustus 2016 lalu, namun sampai sekarang masih bebas dari jeratan hukum.

Yang bersangkutan adalah Zaenal Affandi (44 tahun), pekerja PLTU warga Surabaya, Jawa Timur. Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kabupaten Rembang, Djamal A. Garhan mengatakan ketika wartawan kala itu meliput, Zaenal Affandi tampak hilir mudik keluar masuk ruang Instalasi Gawat Darurat RS dr. R Soetrasno Rembang. Ia melarang wartawan mengambil gambar. Djamal juga mengetahui langsung, Zaenal meneriakkan kata bernada provokatif kepada wartawan. Kebetulan ia mempunyai dokumen foto – foto Zaenal dengan raut muka emosi. Ketika pemeriksaan di kepolisian, bukti tersebut sudah diserahkan penyidik.

Menurut Djamal, kalau dikenakan sangkaan menghalangi kerja wartawan, jumlah tersangka cukup banyak. Tapi kenapa hanya Suryono, warga desa Grawan Kec. Sumber saja yang diproses, pihaknya enggan berspekulasi. Yang jelas fakta persidangan bisa menjadi bahan pengembangan.

Reporter Radio Pop FM, Muntoyo alias Dicky Prasetya mengaku waktu itu ada pegawai PLTU mendatangi wartawan, intinya sambil mengatakan tidak mau tanggung jawab, kalau ada apa – apa dengan wartawan. Belakangan ia baru mengetahui yang melontarkan kalimat tersebut adalah Zaenal Affandi. Ketika bersaksi di persidangan, Dicky sudah membeberkan semua, meski disangkal Zaenal.

Penasehat hukum terdakwa, Darmawan Budiharto menyatakan kasus kekerasan terhadap wartawan hanya mendudukkan Suryono sebagai terdakwa tunggal. Ia mengakui kliennya dikorbankan. Bukan oleh manajemen PLTU, melainkan dikorbankan dalam proses ini. Ketika disinggung apakah untuk menutupi kesalahan banyak orang termasuk Zaenal Affandi, Darmawan menegaskan tak bisa mencampuri. Alasannya,  penetapan tersangka kewenangan penyidik kepolisian.

Usai sidang di Pengadilan Negeri Rembang, Senin siang (17 Juli 2017), kebetulan Zaenal Affandi turut hadir menyaksikan persidangan. Ia langsung dikonfirmasi sejumlah wartawan. Saat dicecar pertanyaan benarkah dirinya turut mengintimidasi wartawan, ia enggan berkomentar. Begitu ditanya apakah siap dilaporkan ke polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Zaenal buru – buru masuk mobil dan langsung tancap gas. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *