Flash News
No posts found

Jaksa Menolak Pembelaan Terdakwa, Tuntutan Tak Goyah

Suryono (berkacamata), terdakwa kasus kekerasan terhadap wartawan. Seluruh pembelaannya ditolak jaksa penuntut umum.

Suryono (berkacamata), terdakwa kasus kekerasan terhadap wartawan. Seluruh pembelaannya ditolak jaksa penuntut umum.

Rembang – Jaksa penuntut umum menolak seluruh pembelaan Suryono (30 tahun), pekerja PLTU Sluke dari desa Grawan Kec. Sumber, yang menjadi terdakwa kasus kekerasan terhadap wartawan.

Hal itu disampaikan jaksa penuntut umum, Wakhid Adrian, dalam sidang lanjutan dengan agenda tanggapan jaksa atas pembelaan terdakwa, di Pengadilan Negeri Rembang, Selasa siang (25 Juli 2017).

Wakhid Adrian membeberkan terdakwa dinilai terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan yang dapat menghambat serta menghalangi kerja wartawan. Padahal pers nasional bebas mencari, memperoleh dan menyebarluaskan informasi, sesuai Undang – Undang Pers. Jaksa tidak berubah pada tuntutannya, yakni menuntut terdakwa dengan hukuman 7 bulan penjara.

Seusai pembacaan tanggapan jaksa atas pembelaan terdakwa, ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rembang, Antyo Harri Susetyo menyampaikan sidang akan dilanjutkan hari Kamis, (27 Juli 2017). Agendanya, giliran penasehat hukum terdakwa menanggapi pendapat jaksa.

Sidang kasus kekerasan wartawan ini tergolong cukup panjang. Kalau tahapan lancar, diperkirakan kurang 2 kali sidang lagi, terdakwa akan divonis oleh Majelis Hakim.

Sebagaimana pernah kami beritakan sebelumnya, tanggal 18 Agustus 2016 lalu, terjadi kecelakaan kerja di PLTU Sluke, yang mengakibatkan 2 orang meninggal dunia dan 2 korban lainnya menderita luka bakar cukup parah.

Saat korban menjalani perawatan di rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang, massa rekan – rekan dan keluarga korban melarang wartawan meliput kejadian tersebut. Massa meneriakkan kata keroyok dan bunuh kepada wartawan. File foto di dalam HP  hasil liputan wartawan Radar Kudus Jawa Pos, Wisnu Aji dihapus. Selain itu, Wartawan Cakra Semarang TV, Sarman Wibowo yang dikejar – kejar massa, keesokan harinya harus masuk ke rumah sakit di Semarang, untuk memeriksakan kondisi penyakit jantungnya. PWI kabupaten Rembang memilih menempuh jalur hukum, lantaran mengancam kemerdekaan pers. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *