Flash News
No posts found

Ada Temuan Terbaru Benda Kuno, Langsung Menarik Perhatian Peneliti

Peneliti arkeologi dari UGM Yogyakarta mengamati benda – benda kuno yang ditemukan saat perluasan Masjid Jami’ Lasem. Temuan terbaru berupa priuk dan keramik bertuliskan Samarcand.

Peneliti arkeologi dari UGM Yogyakarta mengamati benda – benda kuno yang ditemukan saat perluasan Masjid Jami’ Lasem. Temuan terbaru berupa priuk dan keramik bertuliskan Samarcand.

Lasem – Pekerja proyek perluasan Masjid Jami’ Lasem kembali menemukan benda kuno yang tertimbun di dalam tanah, saat melakukan penggalian. Kali ini ditemukan sebuah priuk atau semacam tempayan, dalam keadaan masih utuh. Ada pula pecahan – pecahan keramik kuno bertuliskan Samarcand tahun 1836 Masehi, dengan kombinasi huruf aksara Jawa. Samarcand merupakan sebuah kota di Uzbekistan, yang menjadi asal usul  beberapa tokoh Wali Songo.

Pegiat budaya Lasem sekaligus pengurus Perpustakaan Masjid Jami’ Lasem, Abdullah Hamid, Minggu siang (06 Agustus 2017) menuturkan temuan tersebut langsung menarik perhatian 2 orang peneliti arkeologi dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Keduanya datang mengambil gambar benda – benda kuno yang ditemukan selama proses penggalian tanah untuk memperluas Masjid Jami’ Lasem. Tak hanya periuk yang dicermati, tetapi juga uang koin kuno peninggalan abad ke XV, tempayan, lumpang dan beberapa potongan keramik bergambar Masjid.

Keduanya menyampaikan dengan benda – benda kuno tersebut menunjukkan bahwa kawasan Alun – Alun Lasem yang kini ditempati bangunan Masjid, merupakan salah satu situs Catur Tunggal tertua di Indonesia. Situs Catur Tunggal adalah pola awal terbentuknya kota – kota di Pulau Jawa, terlihat dari area Alun – Alun yang berdekatan dengan Masjid. Peneliti UGM juga melihat dodopeksi atau kayu bagian atas Masjid Jami’ Lasem yang menampilkan huruf bahasa Kawi. Keduanya berjanji siap mencarikan ahli untuk menerjemahkan arti bahasa dalam kayu Dodopeksi itu, karena sampai sekarang belum terungkap maknanya.

Hamid menambahkan temuan terakhir berupa priuk tentu akan menambah koleksi benda kuno yang kelak rencananya akan dipamerkan di dalam Museum Masjid Jami’ Lasem, belakang bangunan utama Masjid. Kalau melihat era tahun temuan barang, sangat beragam. Mulai tahun 1500 an, kemudian tahun 1700 – 1800 an, bisa menggambarkan perkembangan Lasem dari masa ke masa.

Sementara itu, peneliti arkeologi UGM, Andi menyayangkan kalau benda – benda kuno semacam itu diletakkan di tempat seadanya. Ia berharap dinas terkait seperti Pemkab Rembang maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya turut membantu memfasilitasi percepatan pembangunan museum, agar benda kuno bisa terawat dan menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *