Flash News
No posts found

Gapura Identitas Daerah, Bupati Bicara Tentang Biaya Dan Desain

Gapura kecil di pinggir jalur Pantura kecamatan Kaliori ini menjadi penunjuk akan masuk wilayah kabupaten Rembang.

Gapura kecil di pinggir jalur Pantura kecamatan Kaliori ini menjadi penunjuk akan masuk wilayah kabupaten Rembang.

Rembang –  Warga di area perbatasan antar kabupaten menyoroti ketiadaan gapura identitas daerah kabupaten Rembang, yang menunjukkan akan masuk maupun keluar wilayah kabupaten Rembang.

Ahmadi, seorang warga di kecamatan Kaliori membandingkan dengan kabupaten Pati. Di kecamatan Batangan, Pati sudah berdiri megah gapura tanda masuk wilayah kabupaten Pati. Sedangkan penunjuk masuk kabupaten Rembang, hanya berupa gapura kecil di sisi utara jalan. Itupun nyaris tidak terlihat, gara – gara pengaruh proyek pelebaran dan peninggian badan jalan. Meski terlihat sepele, namun baginya cukup penting bagi identitas sebuah daerah.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz menanggapi pihaknya sempat mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2 Miliar untuk membangun gapura di titik jalur Pantura Kaliori dan Sarang. Namun belum terpakai, lantaran ingin mematangkan perencanaan dulu, sehingga ketika gapura jadi, benar – benar fenomenal dan menjadi ikon kabupaten Rembang. Kalau soal lahan di kanan kiri jalan, menurutnya masih ada ruang yang cukup. Ia menargetkan tahun 2018 pembangunan dapat dimulai atau paling lambat 2019 mendatang.

Abdul Hafidz menambahkan gambaran awal, gapura akan dibuat menyerupai replika kapal, menunjukkan potensi kelautan kabupaten Rembang sebagai salah satu unggulan, dengan garis pantainya yang memanjang sekira 62 kilo meter. Desain perlu dirancang ulang, supaya benar – benar mewakili kondisi kabupaten Rembang.

Soal biaya, belakangan muncul ide untuk bekerja sama dengan bagian CSR PT. Semen Indonesia. Kalau investor pabrik semen tersebut menyanggupi, anggaran daerah untuk gapura bisa dialihkan ke sektor lain.

Sementara itu Sunardi, warga di kecamatan Bulu mengingatkan Pemkab jangan hanya membuat gapura identitas daerah di jalur Pantura saja. Namun untuk perbatasan kabupaten Rembang – Blora, juga harus dipikirkan. Apalagi saat ini ruas jalur tersebut sudah menjadi jalan nasional, dengan kepadatan lalu lintas yang semakin ramai. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *