Flash News
No posts found

Pengembangan Prestasi Olahraga, Masih Dibayangi Kendala

Kabupaten Rembang masih kesulitan sarana pra sarana, sehingga tiap event olahraga mengandalkan fasilitas seadanya.

Kabupaten Rembang masih kesulitan sarana pra sarana, sehingga tiap event olahraga mengandalkan fasilitas seadanya.

Rembang – Pelaksanaan Pekan Olahraga Kabupaten Rembang tanggal 12 – 13 September 2017 mendatang, masih dibayang – bayangi minimnya sarana olahraga di kabupaten Rembang.

Wakil Ketua Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) kabupaten Rembang, Sudjito, Kamis siang (07 September 2017) mengatakan cabang olahraga atletik akan dipusatkan di dalam Stadion Krida Rembang. Ia mencontohkan lintasan lari dibuat sendiri memanfaatkan tepi dekat lapangan. Meski belum memenuhi syarat, tapi akan dioptimalkan keberadaan stadion tersebut.

“Ya mau bagaimana lagi, karena stadion di Rembang adanya cuman itu, tetap kita manfaatkan, meski belum layak. Yang penting kita nggak ketinggalan jauh dengan daerah lain. Nanti yang cabang olahraga lempar lembing dan tolak peluru berada di tengah lapangan. Tinggal sedikit – sedikit dimodifikasi, “ ujarnya.

Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kabupaten Rembang, Heri Susetyo mengakui fasilitas memang masih serba seadanya. Khusus atletik, pihaknya pernah studi banding ke Universitas Negeri Semarang (UNES) yang memiliki lintasan lari representatif. Untuk 6 lintasan, minimal butuh anggaran hampir Rp 8 Miliar. Kalau 4 lintasan, menghabiskan Rp 2 – 3 Miliar. Sempat muncul gagasan membuat lintasan semacam itu, di lapangan SMA N 2 Rembang. Karena sampai sekarang tidak ada tindak lanjut, ia berharap keberadaan gelanggang olahraga (GOR) Mbesi dapat direvitalisasi, demi mendongkrak prestasi olahraga.

“Untuk mencukupi venue olahraga perlu dikerjakan bertahap. Kita bisa mengadopsi cara kabupaten Banyumas dalam memenuhi kebutuhan sarana olahraga. Pemkab setempat membuat 1 venue setiap tahun, untuk cabang olahraga. Mustahil prestasi bisa bagus, tanpa dukungan sarana pra sarana. Kabupaten Rembang sedikit demi sedikit mengarah ke sana. Kecuali kalau dipaksakan kabupaten Rembang jadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, mungkin sarana akan dilengkapi. Tapi kita harus mengukur diri, untuk saat ini belum memungkinkan tampaknya, “ jelas warga Perumahan Permata Hijau Ngotet, Rembang ini.

Nantinya halaman Stadion Krida juga dipakai untuk cabang olahraga panjat tebing, kemudian wushu di aula SMA N 2 Rembang, Tenes Meja di aula SMA N 3, basket di SMA N I, bola volley menyebar di lapangan Satlantas Polres, lapangan Kodim dan lapangan desa Tasikagung, karate di aula SMP N 2, panahan di lapangan SMP N 2, pencak silat di kompleks gedung Sanggar Budaya, bilyard di di sebelah barat eks stasiun, bulu tangkis di lapangan Natural Mondoteko, sepak takraw di gedung dusun Bagel desa Mondoteko dan cabang olahraga catur di SD kristen, Rembang.

Heri menambahkan di Jawa Tengah sendiri, baru 3 daerah yang mempunyai fasilitas tempat olahraga tergolong lengkap, diantaranya kota Semarang, kota Surakarta dan kabupaten Banyumas. 3 raksasa tersebut biasanya juga merajai Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) Jawa Tengah. Menurutnya, kabupaten Rembang perlu terus bergerak. Target pada Porprov bulan Oktober 2018 di Surakarta, Rembang mampu menyodok pada ranking belasan. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *