Flash News
No posts found

Tak Tergoda Beralih, Belajar Dari Konsistensi SMA N 2 Rembang

Suasana sekolah SMA N II Rembang.

Suasana sekolah SMA N II Rembang.

Rembang – SMA N 2 Rembang, sebagai salah satu SMA yang memiliki jumlah siswa paling banyak se kabupaten Rembang, sampai hari Jum’at (08 September 2017) tetap konsisten memberlakukan 6 hari sekolah setiap pekan. Satuan pendidikan yang terletak di pinggir jalur Pantura, Jl. Gajah Mada Rembang itu tidak tergoda untuk menerapkan 5 hari sekolah, sebagaimana yang dilakukan oleh 4 sekolah lainnya. Apa yang melatarbelakangi ? Kami mewawancarai Kepala Sekolah SMA N 2 Rembang, Sumarno, Jum’at pagi.

Sumarno membeberkan sejumlah alasan, kenapa pihaknya tetap memberlakukan sistem pembelajaran 6 hari atau hingga hari Sabtu. Yang pertama, hasil angket dari kalangan guru SMA N 2, lebih banyak memilih 6 hari kerja, kemudian kebijakan 5 hari sekolah dulu pernah dicoba namun gagal total. Pertimbangan lain, Bupati Rembang, Abdul Hafidz menolak program 5 hari sekolah. Meski SMA/SMK dikelola provinsi, namun siswa yang diajar merupakan warga kabupaten Rembang. Baginya ada keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan. Selain itu, dengan 5 hari sekolah mengakibatkan siswa pulang sore, berdampak terhadap kesulitan transportasi maupun biaya uang saku melonjak.

“Kita itu tinggal di kabupaten Rembang, kalau pak Bupati menghendaki tetap 6 hari sekolah, masak kita nggak ikut. Ada kebiasaan ketika sore hari, anak – anak perlu membantu pekerjaan orang tua. Begitu pulang sampai sore, kan kasihan. Untuk makan siangnya juga, kantin sekolah belum mampu memenuhi, “ jelas Sumarno.

Sumarno membeberkan selebaran angket tertulis dibagikan kepada 70 an guru. Waktu itu, yang menghendaki 6 hari sekolah lebih banyak, dibandingkan 5 hari sekolah. Angka terpautnya sekira 10 orang. Ia turut mencermati fenomena berbagai kalangan masyarakat di kabupaten Rembang menentang 5 hari sekolah. Salah satunya khawatir mengancam kegiatan pondok pesantren dan mengaji pada sore hari. Kebetulan siswa SMA N 2 yang merangkap menimba ilmu di pondok pesantren juga cukup banyak.

“Lha kalau ada yang tidak dipermasalahkan masyarakat, kenapa harus memilih yang dipermasalahkan (5 hari sekolah). Kita juga mengamati aspirasi warga, dalam hal ini orang tua/wali murid. Suara terbanyak guru di SMA N 2 Rembang sekaligus menguatkan, harus kita hormati. Kalau siswa kan obyek. Mereka yang berjumlah 1.046 anak tidak kita libatkan dalam angket ini. Murid kan biasanya tetap patuh, apabila ada kebijakan. Tapi bisa jadi mereka terpaksa atau bagaimana, “ tambahnya.

Di kabupaten Rembang, 4 sekolah yang memberlakukan 5 hari kerja meliputi SMA N I Rembang, SMA N I Kragan, SMK N I dan SMK N II Rembang. Kepala SMK N I Rembang, Singgih Daryanto berharap Pemkab Rembang berkomunikasi dengan Pemerintah Provinsi. Kalau ada keputusan bersama, pihaknya siap menerapkan 5 hari atau 6 hari sekolah.

“Tak ada masalah antara 5 hari atau 6 hari. Yang penting komunikasi dengan provinsi, biar kita – kita ini tidak bimbang menentukan langkah, “ ungkap Singgih.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) yang membebaskan sekolah untuk memilih 5 hari atau 6 hari sekolah. Dalam Perpres mengarahkan sekolah harus mempertimbangkan kearifan lokal masyarakat setempat. Peraturan tersebut sekaligus membatalkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan yang menggariskan kebijakan 5 hari sekolah. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *