Flash News
No posts found

Kelanjutan Proyek 2 Embung Besar Tak Jelas, Bupati Membedah Penyebabnya

Salah satu embung skala besar di kabupaten Rembang.

Salah satu embung skala besar di kabupaten Rembang.

Rembang – 2 rencana proyek embung besar di kabupaten Rembang, sampai saat ini belum jelas kelanjutannya. Keduanya yakni Embung Trenggulunan di kecamatan Pancur dan Embung Kaliombo di kecamatan Sulang.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz membedah alasan kenapa gagasan bagus tersebut, tak kunjung terealisasi. Khusus Embung Trenggulunan, menurut laporan yang diterimanya karena terkendala pembebasan lahan. Banyak pemilik tanah menolak menjual lahan mereka. Padahal dari sisi studi kelayakan, posisi Embung Trenggulunan cukup bagus, untuk sarana pengairan.

“Setelah studi kelayakan, baru memikirkan pengadaan tanah. Di desa Trenggulunan, kelayakan memungkinkan, tapi pembebasan tanahnya yang sulit. Bukan karena harga, melainkan banyak warga yang enggan menjual tanah. Maka kami tak mau memaksakan satu titik saja, tapi bagaimana membuat embung – embung skala menengah. Minimal resapan air embung bisa berguna untuk meningkatkan sumber air di sekitarnya, “ kata Bupati.

Abdul Hafidz menambahkan sedangkan Embung Kaliombo, pada tahun 2015 lalu Pemkab Rembang sudah pernah mengalokasikan anggaran untuk pembebasan tanah. Namun waktu itu mendadak muncul perubahan regulasi aturan, sehingga membuat pengadaan lahan molor sampai sekarang. Meski demikian Pemkab Rembang berencana menganggarkan lagi pengadaan lahan Embung Kaliombo pada tahun 2018.

Intinya menghindari tanah milik desa, karena berdasarkan Undang – Undang Desa, ketika tanah desa digunakan fasilitas umum, anggaran kabupaten, provinsi maupun pusat tidak boleh masuk ke sana. Karena harus membeli tanah warga, maka ia berharap masyarakat bersama – sama meminimalisir kemungkinan spekulan atau calo yang cenderung menaikkan harga tanah berlipat – lipat.

“Dari posisi cekungan memang sangat bagus untuk dibangun embung. Provinsi kasih sinyal nggak mau, kalau pakai tanah desa. Pemkab tengah menyusun rencana pembebasan. Mekanismenya digodok dulu, biar nggak dimanfaatkan oleh spekulan. Kadang pemilik tanah yang tertipu oleh spekulan. Pemerintah sudah siap, tapi begitu masuk spekulan, langsung menaikkan tanah di luar perkiraan pemerintah. Harapan saya jangan sampai gagal, karena semua demi kepentingan masyarakat luas, “ imbuh Hafidz.

Seorang petani di desa Kaliombo kecamatan Sulang, Kastur mendukung pembangunan Embung Kaliombo. Apalagi sudah ada akses jalannya, sehingga sayang kalau tidak dilanjutkan. Ia menyarankan Pemerintah Kabupaten Rembang melibatkan pemerintah desa setempat, kemudian dicari cara yang ideal untuk mengurangi calo tanah. Selama ada keterbukaan dengan pemilik lahan, baginya masih ada solusi proyek Embung Kaliombo dapat dikerjakan.

“Yang penting pemerintahnya serius. Jangan setengah – setengah. Petani ingin bisa panen padi setahun 2 kali. Tidak seperti sekarang, sekali saja dalam setahun susah, “ ujarnya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *