Flash News
No posts found

Kitab Kuno, Banyak Yang Tertarik Ingin Meneliti

Detail angka tahun pembuatan. (gambar atas) Pengelola perpustakaan Masjid Jami’ Lasem, Abdullah Hamid menunjukkan kitab peninggalan Kiai Mustofa atau Mbah Topo.

Detail angka tahun pembuatan. (gambar atas) Pengelola perpustakaan Masjid Jami’ Lasem, Abdullah Hamid menunjukkan kitab peninggalan Kiai Mustofa atau Mbah Topo.

Lasem – Ada sejumlah koleksi kitab kuno di Perpustakaan Masjid Jami’ Lasem yang kerap menjadi bahan penelitian berbagai kalangan dari luar daerah. Kitab – kitab tersebut meliputi mushaf lembaran Alqur’an ada 2 buah, kitab tafsir Jalalain 2 dan sebuah kitab kuning.

Kitab kuno berusia hampir 150 tahun itu, merupakan peninggalan Kiai Mustofa atau biasa dipanggil Mbah Topo, mertua Kiai Makso’em. Setelah Kiai Mustofa wafat, kemudian dimakamkan di desa Pohlandak kecamatan Pancur. Secara turun temurun, kitab akhirnya dibawa oleh Ustadz Djunaedi, warga desa Karasgede kecamatan Lasem, untuk disimpan di Perpustakaan Masjid Jami’ Lasem. Ustadz Djunaedi merupakan cucu dari Kiai Mustofa.

Abdullah Hamid, pengelola perpustakaan Masjid Jami’ Lasem, Sabtu siang (16 September 2017) mengatakan kitab suci Alqur’an ditulis tangan. Pada lembaran akhir tercantum tahun pembuatan 1294 Hijriyah, padahal sekarang sudah mendekati 1439 Hijriyah. Cukup banyak permintaan agar kitab dipamerkan. Namun pihaknya tidak sembarangan menyetujui, dengan alasan menjaga keutuhan kitab tersebut.

“Zaman sekarang, jarang bisa mendapati kitab setua itu. Universitas Islam Negeri Surakarta meminta kami memamerkan kitab kuno itu. Kemudian mahasiswa dari STAIN Kudus beberapa hari di sini, meneliti sejarah perjalanan kitab dari masa ke masa. Kemudian belakangan ini kami diberitahu oleh Kementerian Agama pusat, yang juga tertarik ingin melakukan penelitian, “ jelasnya.

Abdullah Hamid menambahkan penyimpanan kitab – kitab kuno dipisahkan. Pengunjung perpustakaan cukup melihat dari balik kaca. Mereka merasa terbantu dengan keberadaan perpustakaan Masjid Jami’ yang menyediakan 2 ribuan buku. Sering kali jemaah Masjid maupun peziarah makam Mbah Sambu singgah, guna membaca koleksi buku.

“Tempat di belakang Masjid ini setidaknya menjadi wadah bagi warga yang haus membaca. Tapi diakui atau tidak minat baca masyarakat masih rendah, meski peminjaman buku gratis. Selain itu ada pula buletin Masjid, berupa lembaran – lembaran. Meski ringkas yang penting ilmunya bisa mengena sasaran, “ ujar pemerhati sejarah dari Padepokan Sambua Lasem ini.

Pengunjung perpustakaan Masjid Jami’ Lasem, Rohmat mengaku dengan melihat benda – benda peninggalan sejarah, menurutnya seseorang bisa lebih menghargai keadaan dan mensyukuri beragam kemudahan sekarang.

“Saya kebetulan suka sejarah. Dulu peralatan menulis saja sangat terbatas. Tapi daya kreasi para pendahulu kita, benar – benar luar biasa. Masak kita yang hidup di era kemajuan sekarang, nggak bisa bergerak lebih baik. Harusnya mampu kalau mau, “ tandasnya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *