Flash News
No posts found

Paguyuban Terbentuk, Bupati Ungkap Jenis Bantuan Yang Dihindari

Bupati Rembang, Abdul Hafidz (tengah) bersama dengan pengurus kelompok tani ternak kabupaten Rembang, seusai deklarasi Minggu siang (17/09).

Bupati Rembang, Abdul Hafidz (tengah) bersama dengan pengurus kelompok tani ternak kabupaten Rembang, seusai deklarasi Minggu siang (17/09).

Sumber – Pemerintah kabupaten Rembang menghindari penyaluran bantuan ternak sapi maupun kambing kepada kelompok masyarakat, karena rawan disalahgunakan.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz melontarkan pernyataan itu, saat menghadiri pembentukan paguyuban kelompok tani ternak se kabupaten Rembang yang berlangsung di desa Randuagung, kecamatan Sumber, Minggu siang (17 September 2017). Menurutnya, tiap kali dibagikan, bantuan ternak justru dijual lagi, karena muncul anggapan salah, bantuan menjadi hak pribadi. Yang tersisa, tali, pecut dan tiang pathoknya.

Kalaupun ada yang masih dirawat, jumlahnya hanya 10 an %. Padahal niat pemerintah untuk pemberdayaan masyarakat. Maka sekarang mekanisme penyaluran bantuan diubah, lebih berfungsi pada pemberdayaan, agar warga tidak dimanjakan dengan bantuan, tetapi bagaimana melalui bantuan, mereka bisa bangkit lebih baik.

“Kalau ada rasa bahwa bantuan ini milikku, ini yang jadi masalah. Mau tak apa – apakan terserah saya, kan bahaya. Kalau kambing nggak sampai 1 tahun bablas, sedangkan sapi memang agak lama. Ya memang ada yang disiplin, tapi sedikit. Pemerintah sudah pernah menggulirkan 150 ekor sapi di kabupaten Rembang. Kandang dibantu, pakan dibantu, lha kok nggak bisa ngerawat. Kini tinggal dadung (tali) dan pathoknya. Maka pemahaman masyarakat pelan – pelan harus diubah, “ kata Bupati.

Abdul Hafidz kemudian mengapresiasi pembentukan Paguyuban Kelompok Tani Ternak kabupaten Rembang. Namun ia mengingatkan kalaupun ada bantuan dari pemerintah, sasarannya langsung ke kelompok, bukan kepada paguyuban. Keberadaan paguyuban sebagai kepanjangan tangan pemerintah, sehingga dapat membantu memfasilitasi kelompok – kelompok. Bupati tak ingin terjadi kesalahpahaman, maka hal itu perlu disampaikan sejak awal.

“Ibaratnya sebagai koordinator lah, tangan panjangnya pemerintah. Biar nggak terjadi mis komunikiasi di kemudian hari. Sasaran bantuan, memang sesuai aturan ke kelompok. Dengan ada paguyuban, harapan saya pemberdayaan kelompok tani ternak lebih bagus, sehingga turut mengangkat sektor perternakan di kabupaten Rembang, “ tambahnya.

Anggota Komisi B Bidang Ekonomi DPRD Rembang, Yudhianto yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyarankan kelompok tani ternak jangan menggantungkan bantuan dari pemerintah. Apalagi masa dulu dan sekarang sudah berbeda. Dulu anggaran ke kelompok lebih mudah, tetapi saat ini semakin diperketat, sejak perencanaan hingga pelaksanaan.

Politisi Gerindra dari desa Dresi Kulon kecamatan Kaliori ini mendorong kelompok tani ternak memanfaatkan pinjaman lunak dari bank atau PT. Semen Indonesia. Pemerintah tinggal mendampingi dalam bentuk pelatihan – pelatihan. Salah satunya pembuatan fermentasi pakan, agar peternak tidak merugi. Kalau sudah berjalan, ia berharap setiap kelompok mempunyai semacam blog di internet yang memuat tentang berbagai aktivitas kelompok. Dengan cara tersebut, dirinya juga bisa menjual potensi peternakan dari kabupaten untuk digarap melalui program yang dibahas pemerintah pusat bersama anggota DPR RI.

“Piye carane dadi peternak profesional yang nggak selalu nyagerke (menggantungkan) pemerintah. Kalau sekarang, pembahasan APBD runut sekali. Sejak perencanaan sampai disahkan, harus sesuai. Kalau nggak, saya sama pak Bupati bisa ditangkap sama KPK nanti. Nah Intinya peternak sapi bisa membuat fermentasi pakan. Kalau belum bisa, untungnya nggak seberapa. Yang seperti ini diperdalam, agar peternakan panjenengan dapat berkembang, “ ujar Yudhianto.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ternak kabupaten Rembang, Marjuki, warga desa Randuagung kecamatan Sumber menyatakan kelompoknya menggandeng perwakilan kelompok ternak dari seluruh kecamatan. Susunan pengurus telah terbentuk, tinggal nantinya merancang program – program kegiatan.

“Alhamdulilah paguyuban terbentuk. Yang jadi penasehat bapak Pujiono dari Sumber dan Mulyadi dari Pancur, ketua saya sendiri dari kelompok Agung Makmur, sedangkan Sekretarisnya bapak Juwahir dari Sulang. Temen – temen lainnya tersebar ke berbagai seksi, “ beber Marjuki.

Marjuki menimpali rata – rata keberadaan kelompok tani ternak sudah berjalan secara mandiri. Paguyuban tinggal mewadahi satu sama lain, agar kedepan lebih maju. Mulai dari sisi pembibitan, kelengkapan sarana pra sarana, pemasaran, sampai pada pengolahan limbah kotoran ternak.

“Minimal kita bisa saling bertukar pengalaman. Entah soal bibit yang bagus atau pangsa pasar baru yang bisa ditembus. Siapa tahu ada orderan, di sini nggak ada. Kita bisa ambil dari sana. Yang penting anggota paguyuban merasakan manfaatnya. Soal bantuan pemerintah, ada atau tidak kita tetap semangat, “ pungkasnya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *