Flash News
No posts found

Melejit Lagi, Desakan Impor Menguat

Petambak di kecamatan Kaliori menunjukkan garam hasil panenan, belum lama ini. Musim kemarau relatif singkat, sehingga mengganggu produksi garam.

Petambak di kecamatan Kaliori menunjukkan garam hasil panenan, belum lama ini. Musim kemarau relatif singkat, sehingga mengganggu produksi garam.

Rembang – Harga garam di kabupaten Rembang, langsung merangkak naik, lantaran terkena dampak 3 kali turun hujan. Pengusaha garam pun mendorong pemerintah siap – siap mengimpor garam, apabila kondisi cuaca seperti ini masih terus terjadi.

Pupon, petani garam sekaligus pemilik pabrik garam beryodium di kecamatan Kaliori, Rembang mengaku heran dengan terlalu singkatnya musim kemarau. Cuaca panas terik berlangsung selama 1 bulan. Meski demikian ia meragukan, apakah hujan belakangan ini, benar – benar menunjukkan musim penghujan segera tiba atau ada pengaruh gejala erupsi Gunung Agung di Bali.

Menurutnya, harga garam ketika cuaca panas beberapa hari lalu, mencapai Rp 1.500 per kilo gram. Stok di tingkat petani sudah menipis, sehingga harga naik Rp 2.000 per kilo gram. Karena produksi garam kemarin langsung tersedot untuk memenuhi pasar, sehingga tidak sempat menyimpan persediaan di gudang. Maka ia berharap pemerintah menyiapkan impor susulan, guna mengantisipasi datangnya musim penghujan lebih cepat.

“Panas terik hanya 1 bulanan, ketika petani panen, langsung ditarik pasar, itupun masih kurang. Pokoknya jangan memikirkan gudang garam penuh. Tetap butuh impor kita, kalau nggak ada impor bisa – bisa kelaparan lagi. Prediksi saya bulan Oktober ini, tinggal ada sisa panas sedikit – sedikit, “ kata Pupon, Selasa siang (03/10).

Pupon menambahkan tiap kali hujan sebentar, garam yang masih diproses akan langsung hilang mencair. Untuk memulai dari awal, butuh waktu 7 – 10 hari lagi, asalkan cuaca panas. Bagi petambak garam, musim kemarau dinilai normal, jika panas minimal selama 2,5 bulan.

“Gerimis dikit ya nggak jadi garamnya. Cuaca seperti sekarang, yang bikin akhirnya malas kan. Kalau panasnya terik sekali, paling cepat mungkin 5 hari pembuatan garam sudah jadi. Kalau kita inginnya sich panas itu 2 atau 2,5 bulan, sudah bagus untuk memastikan stok aman. Tapi hujan maupun panas, manusia kan nggak bisa menentukan. Tinggal pasrah saja, “ imbuhnya.

Sebelumnya, ketika harga garam naik menembus Rp 4 ribu per kilo gram bulan Agustus lalu, pemerintah sempat mendatangkan garam impor 75 ribu ton. Sejumlah pengusaha garam beryodium di kabupaten Rembang ikut mendapatkan kuota garam impor. Paling banyak garam dari Australia dan India. (MJ – 81).

1 Komentar

  1. kaos promosi murah

    Cuaca memang menjadi kendala utama dalam usaha semacam ini terutama hujan sangat merugikan petani. Peningkatan teknologi haus dilakukan

    konveksi baju anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *