Flash News
No posts found

Tak Ingin Dianggap Pungli, Siapkan Perbup Pemotongan Tunjangan Guru

upati Rembang, Abdul Hafidz ketika berada di tengah – tengah pelajar, belum lama ini.

Bupati Rembang, Abdul Hafidz ketika berada di tengah – tengah pelajar, belum lama ini.

Rembang – Bupati Rembang, Abdul Hafidz berencana menerbitkan Peraturan Bupati (Perbup) untuk memotong tunjangan profesi guru. Hasil pemotongan tersebut akan dikembalikan lagi sebagai sarana peningkatan kualitas guru, melalui sejumlah kegiatan.

Abdul Hafidz mengatakan apakah nanti besarannya 3 atau 5 % setiap penerimaan tunjangan profesi 3 bulan sekali, ia menyerahkan pada keputusan guru yang diwadahi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Dana selanjutnya bisa dipakai untuk seminar, workshop atau kegiatan lain yang muara tujuannya menambah pengetahuan guru, sehingga kualitas pendidikan akan meningkat.

Kalau tidak ada payung hukum, dikhawatirkan pemotongan tunjangan profesi dianggap bagian praktek pungutan liar (Pungli). Maka dirinya mempunyai wacana membuat Peraturan Bupati, berdasarkan usulan dari kalangan guru.

“Kondisi yang sekarang biar jalan dulu, tinggal nanti menyesuaikan kesepakatan guru seperti apa. Kalau misalnya kok 5 % keberatan ya 3 % lah, bagaimana guru berembug. Yang terpenting ketika dipotong, tidak dituding sebagai pungutan liar. Nah, Pemkab perlu memayunginya dengan Peraturan Bupati. Monggo nanti mendatangkan ahli pendidikan, bikin workshop, agar guru – guru ini bisa lebih bermutu, “ kata Hafidz.

Selain memperhatikan masalah kualitas guru, Pemkab Rembang juga memfokuskan kepedulian terhadap siswa berprestasi dari keluarga miskin. Menurut Bupati, tahun 2017 ini sudah mulai bergulir. Siswa SD miskin berprestasi diberi beasiswa Rp 1 juta per anak menyasar 160 anak, kemudian tingkat SMP sebanyak 130 anak, masing – masing diberi Rp 1,5 juta dan tingkat SMA/SMK diberi Rp 2 juta per anak, baru menjangkau 100 siswa. Sedangkan 40 an anak yang kuliah di berbagai perguruan tinggi juga dibantu dana beasiswa maupun biaya hidupnya.

“Dengan cara tersebut, anak jangan minder dan tidak merasa kalah sebelum berperang. Orang tua juga bisa memacu semangat anaknya, meski dari keluarga tidak mampu, apabila berprestasi tetap mampu melanjutkan sekolah. Khusus mahasiswa, tidak sekedar beasiswa pendidikan, tapi biaya hidupnya selama kualiah juga kami cukupi, “ tambahnya.

Seorang warga di kecamatan Bulu, Sunardi menilai kebijakan tersebut cukup bagus, demi mendongkrak angka partisipasi kasar (APK) anak sekolah. Ia menganggap masih banyak anak keluarga tidak mampu belum tersentuh beasiswa. Maka dirinya berharap kriteria anak berprestasi harus memenuhi nilai berapa, sosialisasinya dipergencar ke desa – desa dan sekolah.

“Kalau anak SD, SMP, SMA tahu program itu, saya yakin akan terlecut semangatnya. Lha kalau sudah punya nilai bagus, gimana cara mengajukan dapat beasiswa. Orang miskin kayak apa yang layak diberi. Apa pula syaratnya, hal – hal seperti itu yang perlu terus disampaikan, biar kami – kami di desa ini juga paham, “ ungkapnya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *