Flash News
No posts found

Soal Ojek Online, Begini Komentar Dishub Rembang

Salah satu ojek online mulai gencar promosi di Rembang (facebook).

Salah satu ojek online mulai gencar promosi di Rembang (facebook).

Rembang – Masuknya ojek online ke wilayah kabupaten Rembang, perlu diantisipasi agar tidak memicu konflik dengan ojek konvensional yang masih banyak bertebaran di sejumlah titik.

Rachman, seorang warga di Rembang menganggap potensi ketegangan rawan terjadi, karena regulasi aturannya belum ada. Apalagi peristiwa saling sweeping antara ojek online dan tukang ojek konvensional sudah muncul di beberapa daerah, sehingga memungkinkan menjalar ke Rembang.

“Urusan perut memang rentan. Tapi kalau satu sama lain mau saling menghormati, saya pikir dapat dieliminir. Yang penting nggak ada provokasi. Nah soal keamanan, ranah kepolisian untuk memantau sejak dini, sehingga ada pencegahan awal, “ tuturnya.

Warga lainnya, Pramono berpendapat ojek online sebagai bentuk kemajuan tekhnologi. Baginya kemajuan tekhnologi jangan dihambat, karena inovasi semacam itu memudahkan masyarakat. Apalagi sampai sekarang masih banyak sarana transportasi umum kondisinya memprihatinkan, lantaran puluhan tahun tidak pernah diremajakan. Yang penting ada pengaturan dan perlindungan terhadap konsumen pengguna jasa, agar mereka merasa dimudahkan.

“Apapun alasannya, kemajuan tekhnologi jangan dihambat. Sarana transportasi kita di sini ya kayak itu – itu saja. Coba dilihat angkutan kuning atau bus ban doble Sarang – Tayu, sudah lama sekali kan. Kemunculan ojek online memudahkan, tapi saya sendiri di tengah – tengah. Yang angkutan lama harus tetap dilindungi sama pemerintah, jangan sampai mati, “ jelas Pramono.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Rembang, Suyono menganggap sebenarnya sama saja antara ojek online maupun ojek konvensional. Sering kali warga ketika ingin bepergian mendadak, menelfon tukang ojek. Bedanya kalau ojek online, memiliki aplikasi khusus, menggunakan sambungan internet.

Sampai hari ini, Jum’at (13 Oktober 2017), pihaknya belum diajak koordinasi oleh operator ojek online, terkait operasional mereka di kabupaten Rembang. Menurutnya, aturan dari Kementerian Perhubungan masih digodok. Dinas di tingkat daerah belum bisa menentukan sikap, sambil menunggu regulasi resmi turun.

“Aturannya sendiri kan belum ada, jadi kalau sekarang muncul ojek online di sini, di luar koordinasi dengan kami. Dishub tidak dalam posisi membolehkan atau melarang. Tapi biasanya masyarakat mencari mana yang mudah. Ya contohnya seperti motor roda 3 Tossa, aturannya kan nggak boleh untuk angkutan penumpang. Tapi marak di wilayah Kragan & Sarang. Yang pengendara dan pengguna jasa juga warga kita sendiri, “ ucap Suyono.

Suyono menimpali pihaknya akan memantau keberadaan ojek online. Kalau ternyata memicu keresahan, Dishub siap menindak. Ia berharap tidak akan terjadi apa – apa. Mekanismenya diserahkan kepada masyarakat untuk memilih. (MJ – 81).

1 Komentar

  1. syarifuddin nisfuady,sh.

    setuju dengan DISHUB , jangan bersikap melarang dan membolehkan. tunggu aturan dari pusat saja . hidup memang penuh siasat agar mencari makan selalu terpenuhi .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *