Flash News
No posts found

Persaingan Ketat, Tambah Jam Latihan Sendiri

Stevani Aulia Risbiyanto, Minggu pagi (15/10) menambah intensitas latihan memanah menjelang Pra Porprov Jawa Tengah.

Stevani Aulia Risbiyanto, Minggu pagi (15/10) menambah intensitas latihan memanah menjelang Pra Porprov Jawa Tengah.

Rembang – Ketatnya persaingan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah, membuat atlet cabang olahraga panahan di kabupaten Rembang, harus menambah jam latihan sendiri, di luar jadwal latihan rutin yang dicanangkan oleh pelatih.

Salah satunya Stevani Aulia Risbiyanto. Remaja putri warga Perumahan Puri Mondoteko Rembang ini memilih berlatih mandiri pada Minggu pagi (15/10), di lapangan depan Gedung Haji Rembang, sambil ditemani kedua orang tuanya.

Stevani menuturkan untuk persiapan pra Porprov Jawa Tengah, latihan biasanya berlangsung di SMA N Sulang, tiap hari Senin, Rabu dan Sabtu. Dirinya yang kebetulan masih kelas XI SMA N 2 Rembang mengajukan dispensasi kepada pihak sekolah, supaya diperbolehkan latihan. Karena memendam keinginan bisa lolos ke ajang Pekan Olahraga Provinsi, Stevani memilih menambah latihan pada hari Minggu, untuk memantapkan kekuatan tangan, sekaligus memperbaiki hasil bidikannya. Ia menganggap kekuatan tangan menjadi salah satu kunci keberhasilan pada cabang panahan.

“Kalau dari kabupaten Rembang ada 6 atlet yang ikut pemusatan, satu sama lain sudah tahu kemampuannya. Tapi untuk kekuatan atlet dari luar daerah, saya belum tahu seperti apa. Sebenarnya dari sekolah juga nggak boleh kalau terlalu banyak minta dispensasi. Cuman mau gimana lagi, ini sudah memasuki pra Porprov. Fokusnya sich tarikan, untuk menambah kekuatan tangan. Kalau latihan sendiri, alat – alatnya ya pengadaan sendiri. Tapi kalau latihan bersama, sudah ada peralatan di SMA N Sulang, “ jelasnya.

Ayah Stevani Aulia Risbiyanto, Subiyanto mengaku mendukung putri sulungnya tersebut menekuni cabang olahraga panahan. Ternyata cukup menikmati, karena dulu pernah mencoba bulu tangkis, renang, tinju dan pencak silat, kurang serius menggeluti. Ia terus memompa semangat anaknya, agar sabar dan jangan mudah menyerah. Baginya, pemanah dituntut sabar, apalagi jika bidikan kerap meleset.

“Ketika anak mulai senang dengan cabang panahan, saya belikan panah bekas seharga Rp 2,5 juta, sedangkan anak panahnya per buah Rp 150 – 200 ribu, semua tergantung bahan sich mas. Kalau untuk atlet kayak gitu, tapi bagi yang ingin sekedar coba – coba mungkin bisa beli peralatan yang lebih murah. Kan ada bahan bambu, kayu, alumunium dan platinium. Yang paling mahal platinium biasanya. Kita sebagai orang tua tinggal mendukung saja, mengarahkan bakat dan kemauan anak, “ kata Subiyanto.

Seperti halnya sepak bola, cabang olahraga panahan juga harus melalui seleksi pra Porprov. Atlet antar daerah disaring terlebih dahulu. Setelah lolos, baru bertanding dalam ajang Porprov di Surakarta, pada tahun 2018 mendatang. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *