Flash News
No posts found

8 Ekor Kambing Mati, Serangan Anjing Buas Meresahkan

Kambing yang mati diterkam kawanan anjing di dusun Kaliuntu desa Pasar Banggi kabupaten Rembang, Senin (16/10).

Kambing yang mati diterkam kawanan anjing di dusun Kaliuntu desa Pasar Banggi kabupaten Rembang, Senin (16/10).

Rembang – 8 ekor kambing milik warga dusun Kaliuntu desa Pasar Banggi, Rembang, Senin pagi (16 Oktober 2017) ditemukan mati. Penyebabnya diduga karena serangan anjing buas. Kambing tersebut masing – masing milik Abdul Rozak 4 ekor, Tarom 3 ekor dan Taslim 1 ekor.

Taslim, salah satu pemilik kambing mengatakan pada awalnya Minggu malam sekira pukul 23.00 WIB, ada tukang tambal ban memergoki kawanan anjing berada di sekitar kandang kambing yang berada di pinggir jalur Pantura, berjarak sekira 50 meter sebelah timur SPBU Kaliuntu. Begitu terdengar suara gonggongan, anjing sempat diusir. Meski kabur, namun belakangan anjing datang lagi. Pagi harinya didapati kambing sudah tergeletak, dengan kondisi luka pada bagian leher. Peristiwa serupa pernah terjadi 5 bulan lalu, 3 ekor kambing milik warga juga mati diterkam anjing.

Taslim menduga anjing – anjing itu milik sebuah perusahaan di sebelah selatan SPBU Kaliuntu. Ia bersama kepala desa meminta pertanggungjawaban pihak perusahaan. Setelah melalui pembicaraan alot, akhirnya diberi ganti rugi Rp 500 ribu setiap ekor. Dirinya juga mendesak anjing dirantai atau area perusahaan dipagari, supaya anjing tidak mengancam keberadaan ternak yang banyak digembalakan.

“Rata – rata leher kambing yang digigit. Saat kami diberi ganti rugi Rp 500 ribu, sebenarnya ya masih keberatan. Tapi mau gimana lagi, saya anggap musibah gitu aja. Yang penting peristiwa ini jangan sampai terulang kembali, “ ujar Taslim.

Komentar serupa juga dilontarkan pemilik kambing lainnya, Abdul Rozak alias Rokhim, warga dusun Kaliuntu. Baginya, kalau dijual pedagang, rata – rata kambing bisa laku Rp 1 juta. Semenjak peristiwa tersebut, dirinya trauma untuk merawat kambing lagi. Kalau malam harus dijaga, menurutnya keberatan. Ia belum berencana memindahkan kandang, karena kebetulan hanya memiliki sisa lahan di tempat yang sekarang.

“Ada ternak yang bunting pula, kalau hanya dikasih Rp 500 ribu ya memang rugi. Mulai pikir – pikir beternak kambing lagi. Masak saya malam harus tidur di kandang kambing mas. Harapan kami, masalah ini jangan disepelekan. Tapi mohon bisa segera diatasi, biar tidak mengganggu lingkungan, “ keluhnya.

Rokhim menambahkan kebetulan ada ternak kambing yang masih hidup, kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga sekitar. Tapi kambing mati yang sudah menjadi bangkai, diserahkan kepada warga yang mau, karena kulit nya laku dijual kembali. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *