Flash News
No posts found

Anggota DPRD Datangi Pabrik Pupuk Organik, Ada Tantangan Untuk Petani & Pemerintah

Anggota Komisi B DPRD Rembang memantau pembuatan pupuk organik di pabrik pinggir jalur Pantura desa Punjulharjo, Selasa pagi (17/10).

Anggota Komisi B DPRD Rembang memantau pembuatan pupuk organik di pabrik pinggir jalur Pantura desa Punjulharjo, Selasa pagi (17/10).

Rembang – Pemakaian pupuk organik di kalangan petani kabupaten Rembang masih rendah. Hal itu menjadi salah satu bahan pembahasan Komisi B Bidang Ekonomi DPRD Rembang, ketika menggelar pantauan di pabrik pupuk organik pinggir jalur Pantura desa Punjulharjo, Rembang, Selasa pagi (17 Oktober 2017).

Anggota Komisi B DPRD Rembang, Joko Supriyadi mengatakan pihaknya berdialog dengan pembuat pupuk organik. Bahan – bahannya terdiri dari campuran kotoran ternak sapi, kotoran ayam petelur, dolomit dan ampas tebu. Setelah melihat proses produksinya, ia mendorong petani mencoba penggunaan pupuk organik dan jangan terus – terusan mengandalkan pupuk kimia. Ketika tanah selalu diberi pupuk kimia, Joko khawatir tanah akan semakin tergantung dengan pupuk kimia. Menurutnya, kedepan berbahaya terhadap kualitas kesuburan tanah.

“Kami amati mayoritas petani mengandalkan pupuk kimia buatan pabrik. Begitu sudah digerojok pupuk kimia, untuk mengembalikan menyerap pupuk organik akan sulit. Tapi kalau mulai dicoba dengan pupuk organik, maka kesuburan tanah lambat laun bisa dikembalikan, “ jelasnya.

Joko menambahkan untuk mendongkrak keyakinan petani, menurutnya Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang perlu memperbanyak demplot percontohan lahan yang diberi pupuk organik. Tujuannya, supaya petani bisa membandingkan hasil panenan, antara menggunakan pupuk kimia dengan pupuk organik. Saat melakukan pantauan ke kantor penyuluh pertanian di kecamatan Sale, mereka membuat percontohan lahan dengan pupuk organik dan ternyata hasilnya cukup bagus. Kalau terus dikembangkan sampai pelosok desa, harapannya petani akan tertarik untuk mencoba.

“Cobalah dibuat lahan jagung, padi, atau kedelai yang diberi pupuk organik dan sampingnya diberi pupuk kimia. Harapan saya anggaran pemerintah ini digunakan untuk demplot percontohan, sehingga petani tidak coba – coba. Kalaupun nantinya gagal, bersumber dari uang pemerintah. Petani di kabupaten Rembang biasanya akan tertarik, ketika tahu ada yang berhasil, “ ujar Joko.

Sementara itu, Kepala Seksi Pupuk Dan Alat Mesin Pertanian Dinas Pertanian Dan Pangan Kabupaten Rembang, Ika Himawan Affandi menyatakan petani terkadang ragu memakai pupuk organik, karena menganggap kualitasnya ada yang kurang bagus. Selain itu, efeknya ke tanaman butuh waktu lama. Pemerintah sendiri berupaya menekan ketergantungan pupuk Urea, dengan cara mengurangi kuota. Di kabupaten Rembang, jatah pupuk Urea bersubsidi, yang semula 22.970 ton, tahun ini menurun menjadi 21.600 ton. Harapannya, penggunaan pupuk organik akan meningkat. Saat ini kuota pupuk organik bagi kabupaten Rembang sebanyak 7.446 ton.

“Kita tidak bisa frontal mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik. Kita jalankan program secara bertahap, supaya petani tidak merasa kaget. Kunci dari pupuk organik adalah kesabaran. Kalau nggak sabar, biasanya petani cenderung beralih ke pupuk buatan pabrik lagi, “ ujarnya.

Soal demplot percontohan, sementara kantor PPL pertanian di setiap kecamatan sudah banyak melakukan kegiatan tersebut. Setiap petugas penyuluh juga diberi tanggung jawab untuk menggiatkan sosialisasi mengenai manfaat pupuk organik kepada para petani di desa binaannya masing – masing. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *