Flash News
No posts found

Petani Tembakau Di Kec. Kaliori Galau, Langsung Sampaikan Desakan

Lahan tembakau di kecamatan Sumber, sebagian kecil disewa oleh petani dari kecamatan Kaliori yang eksodus.

Lahan tembakau di kecamatan Sumber, sebagian kecil disewa oleh petani dari kecamatan Kaliori yang eksodus.

Kaliori – Kalangan petani tembakau di kecamatan Kaliori mendesak supaya larangan penanaman tembakau di lahan 3 desa se kecamatan Kaliori, dapat ditinjau ulang oleh perusahaan mitra, PT. Sadana Arif Nusa maupun Pemerintah Kabupaten Rembang.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) kecamatan Kaliori, Saliman menuturkan 3 desa tersebut, meliputi desa Gunungsari, Sendangagung dan desa Kuangsan. Kala itu total lahan tembakau mencapai 300 an hektar. Namun sejak tahun 2015 PT. Sadana Arif Nusa melarang tembakau ditanam di lahan kecamatan Kaliori, karena dianggap mengandung kadar garam cukup tinggi. Akibatnya, petani serba bingung, lantaran sudah terlanjur membeli mesin perajang maupun dasaran untuk menjemur tembakau.

Sedangkan di sisi lain, dirinya menilai lahan di tiga desa itu sudah terasering dan tidak mengandung garam, sehingga masih cocok untuk budidaya tembakau. Petani yang masih berminat menanam tembakau terpaksa menyewa lahan di desa tetangga, masuk wilayah kecamatan Sumber. Luas lahan sewaan yang diberdayakan petani kecamatan Kaliori, tinggal 20 an hektar. Mantan kepala desa Kuangsan kecamatan Kaliori ini mendesak PT. Sadana Arif Nusa dan Pemkab Rembang mengkaji larangan tersebut, supaya petani pada musim 2018 dapat kembali menanam tembakau di lahan sendiri.

“Perubahannya sangat mencolok, dulu 300 hektar, sekarang pindah menanam ke desa di selatan kampung kami. Selain jauh, biaya sewa lahan juga tinggi, nggak seperti kalau pakai lahan sendiri. Saya itu sudah lama menekuni pertembakauan. Bagi saya tanah kami kualitasnya lebih bagus, dibandingkan tanah sewaan. Tapi kita – kita inin kan hanya pasrah. Harapan saya, mohon pemerintah dan PT. Sadana mengecek lagi, apa benar sich 3 desa di kecamatan Kaliori ini tanahnya tidak layak untuk menanam tembakau. Kok saya belum yakin, “ ungkapnya.

Menanggapi keluhan petani tembakau di kecamatan Kaliori, Kepala Bidang Perkebunan Pemkab Rembang, Yosafat Susilohadi menyatakan larangan sudah melalui penelitian kadar air. Minimal jarak dari pantai, semula 6 kilo meter, tapi belakangan ditambah menjadi radius 10 kilo meter. Apabila kandungan garam tinggi, setelah jadi rokok, maka akan sulit dibakar.

Kalau dipaksakan, memang tanaman masih tetap bisa tumbuh dan panen. Namun kualitasnya rendah. Menurutnya, PT. Sadana Arif Nusa sudah mempunyai tim ahli guna melakukan kajian. Ketika ditanya apakah ada unsur politis, bahwa kecamatan Kaliori merupakan lumbung pangan, sehingga muncul kekhawatiran tanaman tembakau akan menggusur padi, pria yang biasa disapa kencus ini menegaskan sudah ada pemetaan, sehingga tidak saling mengganggu.

“Mungkin petani juga bertanya kenapa di desa Selopuro Lasem boleh, padahal juga dekat sama laut. Tapi hasil penelitian, tanah di sana bagus untuk tembakau. Saya pikir nggak ada unsur politis, karena kita sudah ada kesepakatan dengan Sadana, tidak akan mengganggu lahan padi. Lagipula musimnya juga beda kok. Kita justru fokus optimalkan lahan tidur yang sering menganggur pada waktu kemarau, “ ujar Susilohadi.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) kabupaten Rembang, Maryono menuturkan keluhan petani tembakau di kecamatan Kaliori, sudah dikoordinasikan dengan perusahaan mitra. Mereka sejauh ini berjanji akan mengkaji ulang, tetapi keputusannya seperti apa, menunggu perkembangan lebih lanjut.

“Nanti akan kami tanya lagi, bagaimana nasib lahan di kecamatan Kaliori. Masih dilarang atau boleh ditanami tembakau. Asosiasi ikut memperjuangkan keinginan petani, namun semua tergantung Sadana, “ tandasnya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *