Flash News
No posts found

Biogas Cukup Menarik, Namun Biaya Instalasinya Mahal. Berapa ?

Potensi ternak sapi di kabupaten Rembang bisa diberdayakan untuk pengembangan biogas.

Potensi ternak sapi di kabupaten Rembang bisa diberdayakan untuk pengembangan biogas.

Rembang – Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Mantingan, belakangan ini gencar mempromosikan pembuatan biogas dari kotoran ternak sapi, untuk penerangan listrik dan memasak seperti gas elpiji.

Hal itu menyusul kerja sama antara Perhutani dengan pabrik semen PT. Semen Indonesia, dalam program budidaya rumput raja (King Grass), di desa – desa pinggiran hutan. Namun sayangnya ada beberapa kendala yang bisa membuat warga enggan mengembangkan biogas.

Administratur KPH Mantingan, Joko Santoso mengatakan kendala yang pertama adalah jumlah ternak sapi di 1 lokasi, minimal 5 ekor, supaya pengumpulan kotoran ternak lebih efektif. Kalau kurang dari itu, menurutnya kurang layak.

“Efektivitas biogas ini harus memakai sistem komunal atau berkelompok. Minimal ada 5 ekor. Ahli biogas memang menyarankan seperti itu, karena kalau kurang dari 5 ekor tidak efektif, “ jelasnya.

Joko Santoso menambahkan kendala lain instalasi biogas ternyata juga menelan biaya cukup mahal, antara Rp 15 – 17 juta. Mulai tempat untuk menampung kotoran sapi, pengolahan hingga dialirkan menjadi arus listrik dan gas. Biogas ini efektif dipakai untuk 3 – 5 rumah tangga, dengan pemasangan secara paralel.

Ia berharap perbankan turut membantu melalui pinjaman lunak. Alternatif berikutnya, PT. Semen Indonesia dapat menalangi dulu biaya instalasi biogas. Kelak ketika petani sudah mampu menyetor ampas kering rumput raja kepada pabrik semen, pembayarannya tinggal dipotong, sehingga meringankan para petani.

“Syukur temen – temen Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) memperoleh pinjaman dari Bank Jateng dan BRI. Soalnya lumayan mahal biaya instalasinya, itupun barang tidak terlihat, karena ditanam di dalam tanah. Skema lain lewat kerja sama dengan pabrik semen. Pabrik menampung rumput raja dari petani, nanti petani mengangsur dari penjualan rumput raja, “ imbuh Joko.

Sementara ini pengembangan rumput raja, baru tahap proyek percontohan di kawasan hutan KPH Mantingan, dengan luas lahan hampir 15 hektar. Konsep jangka pendek, rumput untuk pakan ternak sapi, kemudian kotoran ternaknya difungsikan bahan baku biogas. Sedangkan gagasan jangka panjang, batang rumput raja digiling untuk bahan bakar bioetanol dan ampas dari batang tersebut, digunakan bahan bakar pabrik semen menggantikan batubara. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *