Flash News
No posts found

Jelang Pembangunan Pabrik Gula, Sejumlah Masalah Jadi Sorotan

Suasana konsultasi publik pembangunan pabrik gula PT. WKR berlangsung di pendopo kantor kecamatan Sulang, Selasa (07/11).

Suasana konsultasi publik pembangunan pabrik gula PT. WKR berlangsung di pendopo kantor kecamatan Sulang, Selasa (07/11).

Sulang – Masalah sumber air menjadi salah satu sorotan, ketika kegiatan konsultasi publik analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) pembangunan pabrik gula PT. Wadah Karya Rembang (WKR) di desa Kemadu kecamatan Sulang.

Konsultasi publik yang berlangsung di pendopo kantor kecamatan Sulang, Selasa pagi (07 November 2017) itu, dihadiri berbagai pihak. Termasuk perwakilan masyarakat dari desa Sulang dan Kemadu kecamatan Sulang, kemudian desa Ngulahan, Lambangan Wetan dan desa Jukung kecamatan Bulu.

Seorang pegiat lingkungan di desa Sulang, Maemun Abdul Hanan yang hadir dalam kegiatan tersebut mengungkapkan sempat muncul pertanyaan warga seputar sumber air bawah tanah banyak disedot oleh masyarakat desa Kemadu, bahkan sebagian juga dijual. Kalau nantinya ada pabrik gula, apakah rawan mematikan sumber air. Kekhawatiran tersebut langsung dijawab oleh pihak pabrik, nantinya mereka siap membangun 4 buah embung, untuk menampung air hujan. Untuk operasional pabrik, tidak melakukan penyedotan air tanah. Selain air, ada pula yang menanyakan tentang kemitraan dengan petani dan tingkat rendemain atau kadar gula hasil penggilingan tebu.

“Soal rendemain tadi dijawab nggak ada masalah, apalagi pabrik – pabrik baru mengandalkan tekhnologi. Tentu petani juga harus menerapkan prosedur baku sejak penanaman, “ ujar Maemun.

Suhud, tokoh masyarakat desa Kemadu meminta ketika terjadi komplain dari warga, manajemen pabrik harus lekas menindaklanjuti. Ia tak ingin muncul demo.

“Yang penting kecepatan pabrik dalam menyelesaikan, manakala ada keluhan warga sekitar, “ tandasnya.

Camat Sulang, Slamet Haryanto menyatakan perwakilan pabrik maupun konsultan Amdal menerangkan dengan gamblang, tentang antisipasi pencemaran limbah produksi dan cerobong asap. Ia mempersilahkan dibeberkan semua, supaya masyarakat paham. Slamet mengklaim perwakilan warga yang datang, mendukung pembangunan pabrik gula, asalkan tenaga kerja lokal diberdayakan.

“Ben padang ngarep padang mburi. Kalau asap, gimana caranya mengatasi. Kemudian limbah, gimana mengelolanya. Saya lihat warga sekitar pabrik mendukung kok, asal ya itu syaratnya tenaga kerja lokal dioptimalkan dan keberadaan pabrik mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, “ jelasnya.

Di bagian lain, Konsultan Amdal, Taufik menuturkan konsultasi semacam itu penting untuk bahan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Dari pihak pabrik juga menyampaikan siap merekrut tenaga kerja lokal. Saat ini sudah ada 10 orang pemuda dari 2 desa dekat pabrik dididik di Yogyakarta, untuk belajar operasional pabrik gula.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kabupaten Rembang, Djamal A. Garhan menyayangkan selama konsultasi publik belum melibatkan elemen media cetak dan elektronik. Padahal lewat media pula, masyarakat bisa mengetahui kesiapan sebuah pabrik.

“Keterlibatan banyak media akan semakin baik, sebagai fungsi kontrol. Kalau ada informasi pabrik telah sosialisasi lewat media cetak dan elektronik, bohong itu. Anggota kami belum pernah diajak koordinasi atau menerima bahan materi untuk pemberitaan. Mereka justru menggali sendiri dari sumber – sumber lain, “ pungkasnya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *