Flash News
No posts found

Kementerian Layangkan Surat Kepada Dinas Pendidikan, Isinya ?

Surat dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang.

Surat dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang.

Pancur – Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak melayangkan surat tertulis kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, terkait belum keluarnya surat pindah Sri Nurhayati (13 tahun), siswi SMP N I Pancur, warga desa Tuyuhan kecamatan Pancur.

Sri dari keluarga tidak mampu sebelumnya melewati masa – masa sulit, setelah sang ibu meninggal dunia, sedangkan ayahnya, Suratman pergi meninggalkan rumah dan tidak diketahui keberadaannya. Karena rawan terlantar, Sri diasuh oleh bibinya, Suhaeti di Jakarta. Ia disekolahkan di SMP Setia Gama Yayasan Annafsiah Jakarta. Sri hanya sebagai siswa titipan, karena belum mengantongi surat pindah dari SMP N I Pancur.

Akibatnya, anak tersebut sempat tidak bisa mengikuti ulangan tengah semester, serta terancam kehilangan hak – hak lain sebagaimana pelajar pada umumnya. Eddy Heryanto, pengacara asal Lasem yang menjadi kuasa hukum Suhaeti melapor ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, setelah proses mediasi di tingkat sekolah dan kabupaten gagal membuahkan hasil.

Pihak kementerian menurunkan tim untuk mengecek langsung ke lapangan, hingga pada akhirnya mengeluarkan surat yang ditandatangani oleh Sekretaris Kementerian, Pribudiarta Nur Sitepu. Isi surat mengharapkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang membantu menyelesaikan kasus ini dengan pihak sekolah SMP N I Pancur, guna mengeluarkan surat pindah sekolah ke Jakarta.

Eddy Heryanto selaku pelapor berharap Dinas Pendidikan peka menindaklanjuti surat dari kementerian. Apalagi menyangkut masa depan seorang anak.

“Mereka buat surat tidak asal lho, tapi sudah meninjau lapangan kira – kira sebulan lalu. Tak hanya ke sekolah, tapi juga turun di desa Tuyuhan. Kita hidup bernegara, ada persoalan seperti ini, masak mau dibiarkan, “ tuturnya.

Eddy menambahkan di sisi lain pihaknya juga masih melanjutkan proses permohonan pencabutan hak asuh Sri Nurhayati dari ayah kandungnya di Pengadilan Agama Kabupaten Rembang. Meski persidangan tidak pernah dihadiri Suratman, namun ia optimis hak asuh akan beralih ke tangan bibinya Sri di Jakarta.

“Suratman selaku termohon tidak pernah datang. Sidang sementara ini akan memasuki tahap pembuktian. Semoga permohonan klien kami bu Suhaeti untuk bisa mendapatkan hak asuh dikabulkan hakim. Hal itu penting bagaimana status anak ini, termasuk kalau ada keperluan sekolah, “ imbuhnya.

Sebelumnya, Erna Nur Mutia, Kepala SMP N I Pancur menyampaikan alasan kenapa pihaknya belum mengeluarkan surat pindah, karena ayah kandung Sri Nurhayati pernah berpesan anaknya harus tetap bersekolah di SMP N I Pancur.

“Kami tentu tidak bisa gegabah menerbitkan surat pindah, karena ayahnya sudah berpesan seperti itu. Misalnya ayahnya datang lagi dan membolehkan Sri pindah sekolah, surat pindah akan langsung kami terbitkan. Sekolah sama sekali tidak bermaksud mempersulit, “ tegas Erna.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, Mardi melalui pesan pendek SMS mengaku dirinya baru menerima surat dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak. Untuk langkah selanjutnya, akan dikaji dulu. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *