Flash News
No posts found

Terbebas Dari Penyanderaan, Begini Ceritanya Warga Kec. Pancur Masuk Papua

Warga kabupaten Rembang dan kabupaten Demak yang terbebas dari penyanderaan foto bareng. (gambar atas) Evakuasi korban penyanderaan di Papua. (kabarnews).

Warga kabupaten Rembang dan kabupaten Demak yang terbebas dari penyanderaan foto bareng. (gambar atas) Evakuasi korban penyanderaan di Papua. (kabarnews).

Pancur – 5 orang warga kecamatan Pancur selamat dari penyanderaan kelompok bersenjata di kecamatan Tembagapura, kabupaten Mimika – Papua, setelah dibebaskan oleh pasukan gabungan TNI & Polri.

Kelimanya adalah Ngarjani (53 tahun), Ngadirin (40 tahun), Wiji Utomo (32 tahun), Hendra Budi Ali Sangkar (20 tahun), warga desa Pohlandak kecamatan Pancur dan Hendri Wiyono warga desa Gemblengmulyo kecamatan Pancur.

Kepala Desa Pohlandak, Mundasir, Selasa siang (21 November 2017) menjelaskan semula warganya, Ngarjani merantau ke Papua sebagai penambang emas tradisional sejak tahun 2003 lalu. Karena sukses, Ngarjani kemudian mengajak kerabatnya dari desa Pohlandak, untuk bersama – sama bekerja di Papua. Total ada sekira 15 orang.

Secara bergantian, biasanya warga pulang ke kampung halaman. Setelah itu kembali lagi ke Papua. Saat disandera kelompok bersenjata, kala itu terdapat 4 orang warga desa Pohlandak dan 1 warga Gemblengmulyo. Sontak kabar tersebut mengagetkan masyarakat dan berhari – hari menjadi konsumsi media nasional.

“Setelah tahun 2003 pak Ngarjani mendulang emas di Papua, ternyata ekonominya meningkat. Ibarat kata ya sebagai keluarga mampu sekarang. Tahun 2004 warga kami semakin banyak merantau kesana, karena untuk keperluan menambang emas, harus menggali sumur dulu. Waktu pulang mereka nggak tentu. Kadang 1 kelompok 4 – 5 orang pulang, setelah 2 – 3 Minggu di rumah, langsung balik lagi, “ tutur Kepala Desa.

Mundasir menambahkan setelah dibebaskan oleh pasukan gabungan, warga kecamatan Pancur berada di tempat penampungan Paguyuban Keluarga Jawa Papua. Rencananya mereka diterbangkan dari Papua dan akan mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang, Rabu malam (22/11) bersama 34 orang warga lain asal kabupaten Demak. Pemerintah Kabupaten Rembang siap menanggung biaya pemulangan. Lalu apakah warga kelak boleh merantau lagi ke perbukitan Papua? Menurut informasi, penambang emas kesulitan kembali ke tempat tersebut, karena sudah ditutup.

“Yang jelas nggak tahu berapa penghasilan penambang emas tradisonal di Papua, kita kan nggak pernah dibocori soal itu. Cuman menambang emas resikonya tinggi, soalnya warga adat di Papua sudah tahu potensi besar tersebut. Mereka yang semula berpangku tangan, kini juga ingin mendulang. Kabarnya di sana tertutup mas, dijaga ketat, “ imbuh Mundasir.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dan Tenaga Kerja Kabupaten Rembang, Teguh Gunawarman memperkirakan rombongan korban penyanderaan mendarat di Bandara Ahmad Yani pukul 19.00 WIB, Rabu malam. Setelah itu, dilanjutkan perjalanan menuju pendopo kabupaten Demak.

“Pihak kami akan menjemput warga kecamatan Pancur di pendopo kabupaten Demak. Setelah selesai penyambutan, baru diantar pulang ke Pancur, “ tandas mantan Camat Gunem ini. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *