Flash News
No posts found

“Kalau Desa Belum Mengusir, Kami Mohon Bisa Tetap Bertahan…”

Penderita HIV/Aids di kecamatan Sedan sholat dengan cara duduk. Ia berusaha menghalau rasa sakit maupun tekanan dari lingkungan sekitar.

Penderita HIV/Aids di kecamatan Sedan sholat dengan cara duduk. Ia berusaha menghalau rasa sakit maupun tekanan dari lingkungan sekitar.

Sedan – Nasib memprihatinkan dialami seorang penderita Aids di sebuah desa di kecamatan Sedan, kabupaten Rembang. Sampai sekarang masih dikucilkan oleh masyarakat. Meski pemerintah menyuarakan jangan mengucilkan penderita HIV/Aids, namun kondisi tersebut masih sering terjadi. Stigma buruk terhadap orang dengan HIV/Aids (Odha), seakan – akan sulit untuk diputus.

Pria berinisial EM (44 tahun), penderita Aids di sebuah desa di kecamatan Sedan kini semakin galau. Selain harus berjuang melawan gerogotan virus HIV yang sudah memasuki stadium IV, dirinya juga menghadapi gempuran perlakuan tidak mengenakkan dari mayoritas warga sekitar. Semenjak diketahui menderita Aids awal bulan November lalu, banyak masyarakat yang menghindar. Ia sudah 3 kali pindah lokasi, karena sempat ditolak warga. Mereka khawatir penyakitnya akan menular. Sampai akhirnya pemerintah desa turun tangan, membolehkan EM menempati bekas ruangan kosong di samping balai desa setempat.

Untuk makan sehari – hari, kebetulan ada kerabat dan seorang warga yang peduli. EM mengaku belakangan ini dadanya terasa sakit ketika digunakan untuk mengunyah makanan maupun menelan obat. Namun karena ingin bertahan hidup, dirinya berupaya keras melampaui masa – masa sulit ini. EM menambahkan sekarang lebih banyak mencurahkan waktu dengan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tiap sholat, ia hanya duduk, lantaran tidak kuat berdiri dalam waktu agak lama.

“Saya sedih sekali karena masyarakat menjauhi, takut tertular. Padahal kalau hanya sekedar mengobrol atau berjabat tangan, kan nggak menular. Inginnya penderita Aids jangan dikucilkan. Hanya sesekali saja saya keluar. Kendala sementara ini untuk makan dan minum, dada langsung sakit. Dada terpaksa saya tekan, biar dapat mengurangi rasa sakit, “ jelas EM sambil berbaring di tempat tidur yang lusuh.

Sudah hampir sebulan ini, EM menempati salah satu ruangan balai desa. Ia ditemani seorang warga, Abdul Khafid yang kebetulan juga hidup sendirian. Belakangan Abdul Khafid turut diteror oleh sejumlah warga yang menolak apabila ada penderita Aids ditempatkan di dekat balai desa. Mereka berdalih balai desa merupakan fasilitas umum.

Khafid kemudian meminta perlindungan kepada desa, agar EM tetap menumpang di balai desa, karena tidak mempunyai tempat lagi, untuk sekedar berteduh.

“Gunjingan – gunjingan warga itu saya dapatkan kalau pas ke warung atau ke pasar. Mereka bilang balai desa kok untuk menampung penderita Aids, itu kan fasilitas umum. Ya saya bilangi siapa sich yang pengin sakit kayak gitu. Selama desa belum mengusir, saya akan tetap merawat EM di balai desa. Kebetulan pak Kades masih membolehkan untuk tinggal, “ tuturnya.

Khafid menambahkan dari sisi penanganan medis, Puskesmas Sedan sudah mengambil langkah – langkah. Termasuk rutin mengantarkan berobat jalan ke rumah sakit dr. R Soetrasno Rembang, tiap setengah bulan sekali. Rencananya sampai 6 bulan kedepan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang juga turun menggelar sosialisasi tentang penularan Aids, hanya melalui jarum suntik dan hubungan sex. Namun sayang, masih saja muncul perlakuan tidak menyenangkan terhadap orang dengan Hiv/Aids (Odha). Menurutnya, menjadi kado pahit di tengah peringatan Hari Aids se dunia yang jatuh tiap tanggal 01 Desember. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *