Flash News
No posts found

Berusaha Bangkit, Setelah Tak Lagi Menambang Emas

Hendri Wiyono, warga desa Gemblengmulyo kecamatan Pancur merintis usaha budidaya cacing di rumahnya.

Hendri Wiyono, warga desa Gemblengmulyo kecamatan Pancur merintis usaha budidaya cacing di rumahnya.

Pancur – Sejumlah warga kabupaten Rembang, yang sempat menambang emas di Papua dan menjadi korban penyanderaan kelompok kriminal bersenjata, hingga saat ini masih menganggur. Mereka berupaya kerja seadanya di kampung halaman.

Hendri Wiyono salah satunya. Pria berusia 26 tahun, warga desa Gemblengmulyo kecamatan Pancur, kabupaten Rembang ini mengaku merintis usaha budidaya cacing (Lumbricus Rubellus) yang biasa digunakan untuk bahan obat maupun kosmetik.

Hendri mengatakan keluar modal sekira Rp 600 ribu, untuk membeli bibit, sekaligus membuat media pengembangan. Ia masih sebatas coba – coba, sehingga pada masa permulaan ini, masih banyak cacing yang mati.

“Saya hanya browsing lewat internet mas, nggak belajar secara khusus. Kemarin itu telur cacingnya banyak sekali, tapi entah kenapa kok banyak yang mati. Mungkin media untuk budidaya cacing kurang lembab. Saya ingin cari kesibukan dulu, daripada nganggur di rumah. Apalagi isteri mengandung anak pertama, butuh pemasukan mas, “ ujarnya.

Hendri Wiyono menambahkan dirinya tetap memendam keinginan untuk bisa kembali menambang emas, limbah PT. Freport di Tembagapura, Papua. Beberapa kali mengontak kenalan di Papua melalui telefon, sayangnya belum bisa berkomunikasi. Ia beralasan hasil menambang emas bisa diandalkan untuk menopang ekonomi keluarga, karena setiap bulan mampu mendapatkan penghasilan bersih rata – rata Rp 4 Juta. Saat musim penghujan dan debet air sungai meningkat, pendapatan cenderung melambung, karena banyak pasir terbawa banjir dari hulu sungai. Namun terkadang sepi penghasilan, bahkan pernah beberapa bulan harus “nomboki” pengeluaran makan.

“Saya telfon kenalan di Papua. Kalau pas nyambung, nggak diangkat. Tapi seringnya telefon nggak aktif. Saya enggan kirim sms, karena banyak yang nggak bisa baca di sana. Sebenarnya isteri dan mertua saya sempat melarang, nggak boleh ke Papua lagi. Tapi nyari pekerjaan di sini atau merantau ke pulau lain, kurang menjanjikan. Saya pernah merasakan kerja di Kalimantan, ya gitu – gitu aja. Pokoknya kalau situasi keamanan di Papua sudah kondusif, saya berencana ke Papua lagi, “ tambah Hendri.

Sementara itu, Ngarjani (53 tahun), warga desa Pohlandak kecamatan Pancur yang sudah 14 tahun menambang emas di Papua, sekarang mengisi waktunya dengan merawat ternak. Ia juga ingin terjun ke profesi lamanya, berdagang ternak sapi.

“Saya harus bangkit mas, karena punya anak kuliah. Inginnya juga nanam tebu, tapi modal terbatas. Ya saya jalani saja yang bisa saya lakukan. Ngadirin, adik saya yang menambang emas juga masih menganggur. Dulunya nyopir, tapi nggak tahu gimana nantinya, “ kata pria 3 anak ini.

Sementara itu, Wiji utomo (32) dan Hendra Budi Ali Sangkar (20), mantan penambang emas belakangan memilih bekerja sebagai buruh bangunan, sekedar untuk mengisi waktu. Wiji tinggal di dusun Muragan desa Tuyuhan kecamatan Pancur ikut mertuanya, sedangkan Hendra yang berdomisili di desa Pohlandak kecamatan Pancur, bekerja di proyek yang ditangani pemerintah desa setempat. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *