Flash News
No posts found

Disambut Aksi Nelayan Cantrang, Begini Komentar Menteri Susi

Menteri Kelautan Dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat berada di Rembang. (gambar atas) Nelayan bersama keluarganya menggelar aksi menentang larangan jaring cantrang, Kamis petang.

Menteri Kelautan Dan Perikanan, Susi Pudjiastuti saat berada di Rembang. (gambar atas) Nelayan bersama keluarganya menggelar aksi menentang larangan jaring cantrang, Kamis petang.

Rembang – Kunjungan Menteri Kelautan Dan Perikanan, Susi Pudjiastuti di kabupaten Rembang, Kamis sore (07/12/2017) disambut demo kalangan nelayan cantrang. Mereka menuntut supaya pemerintah memperpanjang masa toleransi pemakaian jaring cantrang.

Nelayan cantrang beserta anak isterinya membentangkan poster – poster tuntutan di depan Hotel Fave yang akan digunakan Menteri Kelautan Dan Perikanan, Susi Pudjiastuti untuk istirahat. Posisi hotel berada di pinggir jalur Pantura Semarang – Surabaya, dan berseberangan dengan kawasan Alun – Alun Rembang.

Peserta aksi menuntut jaring cantrang tetap dilegalkan. Mereka resah, karena masa toleransi penggunaan cantrang akan berakhir pada bulan Desember tahun 2017 ini. Apalagi masih banyak pemilik kapal yang terbelit hutang bank, sehingga belum mampu mengganti alat tangkap lain. Sementara pemerintah dianggap belum memberikan solusi bantuan bagi anak buah kapal cantrang. Nelayan semakin kecewa, lantaran kunjungan Menteri Susi tidak memberikan kesempatan dialog dengan nelayan cantrang.

Siswanto, seorang pemilik kapal cantrang dari Kelurahan Tanjungsari, Rembang mengungkapkan efek larangan jaring cantrang tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi berdampak luas terhadap sektor perekonomian.

“Coba bayangkan mas, 1 kapal cantrang ketika berangkat melaut butuh perbekalan yang nilainya mencapai Rp 150 Juta. Begitu kapal tidak beroperasi, penjual beras, es batu, rokok dan sebagainya, akan sepi omset. Pasar pun turut terkena imbasnya. Sampai tukang becak juga mengeluh penghasilan menurun. Jadi tak hanya berkutat pada pemilik kapal, nelayan maupun buruh di pelabuhan, “ jelas Siswanto, mantan manajer PSIR Rembang ini.

Demo di depan Hotel Fave tak bertahan lama. Seusai Maghrib, massa lambat laun membubarkan diri. Ketatnya penjagaan aparat TNI/Polri, membuat peserta aksi yang tidak mengantongi izin demo, mengurungkan niat untuk melanjutkan sampai malam.

Kamis malam, puncak kegiatan terpusat di Alun – Alun Rembang. Sejumlah pejabat penting turut hadir, mendampingi Menteri Susi Pudjiastuti.

Ketika menyampaikan sambutan, Bupati Rembang, Abdul Hafidz sama sekali tak menyinggung jaring cantrang. Ia hanya menyebutkan garis pantai di wilayahnya mencapai 63 Kilo Meter. Masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari profesi nelayan sebanyak 30 %.

“Saya berharap kehadiran Bu Susi ke sini akan mendatangkan manfaat bagi nelayan, supaya kedepan lebih sejahtera, “ ujar Bupati.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan candaan khasnya mendadak membalikkan badan, saat berpidato di atas panggung. Praktis tampak bagian punggungnya. Ternyata ia ingin menunjukkan baju batik yang dikenakan bergambar ikan, supaya dirinya tidak ditenggelamkan oleh Menteri Susi. Sontak hal itu memancing tawa tamu undangan. Ganjar kemudian mendorong agar semua pihak menjaga potensi sumber daya kelautan.

“Bu Susi baju motif ikannya tak pakai lho, jangan ditenggelamkan. Nah, kenapa malam ini bu Susi ngundang dalang Ki Enthus, maksudnya kepengin ndongeng tentang kekayaan laut kita yang begitu luas. Di laut kita jaya, “ kata Ganjar.

Sementara itu Menteri Susi Pudjiastuti, menegaskan pihaknya berupaya mewujudkan kedaulatan sektor kelautan di perairan Indonesia. Setelah menenggelamkan kapal – kapal asing, Presiden Joko Widodo menginginkan agar laut dijaga untuk keberlanjutan pada masa mendatang. Ia menyadari banyak kebijakannya ditentang. Padahal menurutnya langkah tersebut demi kepentingan nelayan sendiri.

“Laut harus menjadi masa depan bagi bangsa kita. Nggak cuman untuk sekarang, tapi untuk puluhan ratusan bahkan ribuan tahun kedepan. Ikan di laut untuk cucu – cucu kita, cicit dari cucu – cucu nanti. Kalau saya dipakai terus sampai 5 tahun, begitu selesai jadi Menteri, akan menjadi warga biasa. Tapi saya sudah sumbangkan tenaga dan integritas yang saya miliki, tanpa ragu dan tanpa takut. Maka saya titipkan laut kepada anda semua, “ jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut pihak kementerian menutupnya dengan pentas wayang kulit. Melalui lakon wayang “Pandawa Layar”, dalang Ki Enthus dari Tegal, menyisipkan pesan – pesan moral keserakahan mencari ikan, tanpa memikirkan nasib generasi berikutnya. Ki Enthus juga menyentil penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, sebagai bentuk menghargai potensi laut. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *