Flash News
No posts found

Kisah Siswa Dari Keluarga Miskin : Tak Pernah Dapat Beasiswa, Meski Langganan Ranking 1

Rumah Samat di desa Kunir kecamatan Sulang. (gambar atas) Eswien Nafiqoh diapit Wakil Kepala Sekolah dan wali kelasnya, Jum’at (08/12).

Rumah Samat di desa Kunir kecamatan Sulang. (gambar atas) Eswien Nafiqoh diapit Wakil Kepala Sekolah dan wali kelasnya, Jum’at (08/12).

Sulang – Program beasiswa pendidikan bagi siswa berprestasi dari keluarga tidak mampu yang digulirkan oleh pemerintah, masih harus dipertajam dengan data yang lebih akurat. Hal itu karena diperkirakan masih cukup banyak siswa dari keluarga miskin, belum mendapatkan beasiswa. Mulai dari sumber anggaran pemerintah kabupaten Rembang hingga pemerintah pusat.

Salah satunya dialami Eswien Nafiqoh (13 tahun), anak pasangan Samat (39 tahun) dan Siti Kayatun (32 tahun), warga RT 06 RW 03 desa Kunir kecamatan Sulang.

Samat dalam talkshow “Halo Bupati” di Radio R2B Rembang, melalui sambungan telefon mengaku termasuk keluarga miskin. Kebetulan putrinya, Eswien Nafiqoh sejak kelas 1 SD sampai kelas 8 SMP N I Sulang menjadi langganan ranking 1 di kelasnya. Namun selama ini tidak pernah menerima beasiswa dari pemerintah. Sedangkan siswa lain yang kondisi ekonominya lebih baik, justru memperoleh beasiswa. Ia berharap kepada Bupati Rembang mengusahakan, supaya anaknya masuk sebagai penerima beasiswa.

“Saya miskin tapi anak kami nggak pernah dapat bantuan, yang di atas kami malah mendapatkan. Kami mohon sama pak Bupati, bagaimana caranya anak saya memperoleh beasiswa, karena dari kelas I SD sampai kelas 2 SMP ini, selalu menduduki ranking 1 di kelas, “ ungkap Samat.

Jum’at siang (08 Desember 2017) kami menelusuri ke sekolah Eswien Nafiqoh di SMP N I Sulang. Eswien menuturkan orang tuanya berprofesi sebagai buruh tani. Ia sendiri merasa kasihan, kalau melihat perjuangan bapak ibunya, dalam menopang ekonomi keluarga. Padahal dirinya sangat berkeinginan terus melanjutkan sekolah hingga jenjang perguruan tinggi, seraya berharap kelak bisa mewujudkan cita – cita menjadi guru.

“Kalau siang habis kerja dari sawah bapak ibu terlihat lelah sekali, terus terang saya kasihan. Kadang saya harus memendam keinginan untuk bisa masuk SMA maupun kuliah, karena khawatir nggak mampu membiayai. Tapi saya ingin sekali bisa menjadi guru mas. Untuk meringankan beban orang tua, saya tiap hari pulang pergi sekolah, ngonthel sepeda, nggak naik angkutan umum,  “ tutur Eswien dengan mata berkaca – kaca.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP N I Sulang, Jaka Haryanta membenarkan Eswien Nafiqoh termasuk anak pintar dan ranking 1 di kelasnya. Namun belum memperoleh beasiswa, karena yang bersangkutan tidak memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP). Ia menduga ketika dulu pendataan oleh pusat kelewatan. Belum lama ini sekolah sempat mengajukan 7 orang pelajar, guna mendapatkan bantuan pendidikan Program Indonesia Pintar, yang disetujui ternyata 5 anak. Eswien Nafiqoh tidak termasuk dalam daftar 7 nama yang diusulkan.

“Kalau melihat nilainya sejak kelas 1 dan 2 ini, di atas rata – rata semua. Sekolah tidak pernah ngecek kondisi rumah siswa, tapi dasarnya ya kartu jaring pengaman sosial dari pemerintah itu, untuk menunjukkan dari keluarga miskin atau bukan. Saya akui kuota beasiswa dari pemerintah terbatas, “ beber Jaka.

Sementara itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz menanggapi setelah menerima laporan, jajarannya langsung turun mengecek ke kediaman Samat di desa Kunir kecamatan Sulang. Ia menjanjikan kalau memang layak, keinginan Eswien Nafiqoh untuk memperoleh beasiswa akan dipenuhi. Apalagi Pemkab Rembang sudah menggelontorkan anggaran beasiswa dari SD, SMP dan perguruan tinggi. Prinsipnya, anak berprestasi dari keluarga miskin, pendidikannya akan ditanggung Pemkab Rembang.

“Yang dikuliahkan Pemkab Rembang mulai tahun ini puluhan orang, tersebar di Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Besaran beasiswa maupun biaya hidupnya beda – beda. Saya ingin, kuliah jangan hanya dinikmati orang berduit saja. Memang sudah ada program Bidik Misi, tapi prosentasenya kan sangat kecil. Kalau SMA memang nggak kita beri, karena sudah menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi sekarang, “ jelas Bupati.

Abdul Hafidz menambahkan bisa saja apabila Eswien Nafiqoh mampu meningkatkan prestasi akademiknya, akan diberi beasiswa untuk kuliah. Ia menyarankan sekolah juga memperhatikan keakuratan data dan verifikasi lapangan sebelum pengusulan, supaya beasiswa benar – benar tepat sasaran.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang, penerima beasiswa dari Pemkab Rembang tingkat SD 160 anak, masing – masing berhak bantuan Rp 1 Juta per tahun, SMP 130 anak, dengan beasiswa Rp 1,5 Juta per tahun dan pendidikan tinggi 39 orang, sesuai besaran uang kuliah di masing – masing perguruan tinggi. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *