Flash News
No posts found

Disesalkan, Masih Tersisa 2 Sekolah

Sebuah mobil warga kabupaten Rembang ditulisi tolak FDS (full day school).

Sebuah mobil warga kabupaten Rembang ditulisi tolak FDS (full day school).

Rembang – Sejumlah kalangan menyesalkan masih ada sekolah di kabupaten Rembang yang tetap ngotot memberlakukan siswa masuk selama 5 hari setiap pekan atau terkenal dengan sebutan full day school (FDS). Hal itu berbeda dengan sekolah – sekolah pada umumnya yang menerapkan 6 hari sekolah atau libur hanya hari Minggu saja.

Adi Kusmanto, seorang warga desa Sambiyan kecamatan Kaliori mengungkapkan kebijakan 5 hari sekolah bertentangan dengan kearifan lokal di kabupaten Rembang. Ia mencontohkan aktivitas madrasah yang dimulai dari pukul 14.00 siang sampai sore, masih banyak berlangsung di pelosok pedesaan.

Begitu sekolah formal memberlakukan 5 hari, konsekuensinya siswa pulang sampai pukul 16.00 WIB. Kalau ditambah ekstra kurikuler, bisa mendekati Maghrib. Selain siswa tidak bisa ikut program keagamaan melalui madrasah, beban pikiran juga bertambah berat.

“Kalau semua menerapkan 5 hari sekolah, apa nggak mati madrasah. Pasti imbasnya sangat besar. Lagipula kenapa kok masih ada sekolah ngotot 5 hari, belajar sampai sore membuat pelajar jadi jenuh dan capek, “ keluhnya.

Yuliana Nurmalasari, pelajar warga desa Cabean Kecamatan Bulu mengaku bersyukur sekolahnya MA Arrohman tetap menerapkan 6 hari sekolah. Ia pribadi merasa lebih enak 6 hari, ketimbang 5 hari sekolah.

Kalau 5 hari, pulang sampai sore. Waktu istirahat pun sangat mepet, sehingga berpengaruh terhadap jam belajar malam hari. Dari sisi uang saku menjadi lebih boros. Kalau 6 hari masuk membawa uang saku rata – rata Rp 5 ribu, sedangkan 5 hari masuk mengharuskan uang saku minimal Rp 10 Ribu, untuk ongkos tambahan makan siang.

“Dengan 6 hari sekolah, saya lebih enak mengatur waktu antara pendidikan formal sama mengaji. Uang saku juga nggak berat – berat amat. Beda seandainya saya pulang sampai sore, mau nggak mau harus minta tambahan uang saku, padahal pendapatan orang tua tetap. Apa nggak memberatkan kalau seperti itu dipertahankan, “ ujar Yuliana.

Sebelumnya di kabupaten Rembang, terdapat 4 sekolah menerapkan 5 hari sekolah. Diantaranya SMA N I Rembang, SMK N I Rembang, SMK N II Rembang dan SMA N I Kragan.

Belakangan SMK N II Rembang dan SMA N I Kragan kembali ke 6 hari sekolah, sedangkan SMA N I dan SMK N I Rembang masih bertahan dengan 5 hari sekolah. Adanya 2 sekolah yang berbeda, membuat sejumlah kalangan khawatir akan memicu kecemburuan, sehingga sekolah lainnya ikut – ikutan ganti pola.

Berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, program 5 hari sekolah bukanlah kewajiban dari pemerintah. Tapi sekolah perlu memperhatikan kesiapan, serta kearifan lokal di daerah masing – masing. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *