Flash News
No posts found

Lumpuh, Kini Ibarat Kawasan Mati

Suasana dermaga pelabuhan Tasikagung dan tempat lelang kapal cantrang yang sepi, Senin (01/01/2018).

Suasana dermaga pelabuhan Tasikagung dan tempat lelang kapal cantrang yang sepi, Senin (01/01/2018).

Rembang – Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung, Rembang lumpuh total. Kondisi tersebut merupakan imbas dari larangan operasional jaring cantrang oleh Kementerian Kelautan Dan Perikanan, yang mulai berlaku pada hari Senin, tanggal 01 Januari 2018.

Pelabuhan Tasikagung yang merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Kabupaten Rembang bagaikan tempat mati. Tak ada aktivitas pelelangan ikan. Warung – warung maupun tempat parkir kendaraan yang biasanya ramai, sekarang juga lengang. Tanda – tanda kesunyian seperti itu sudah mulai tampak seminggu lalu.

Slamet Yasman, nahkoda kapal cantrang dari Kelurahan Pacar, Rembang mengatakan nelayan cantrang tak bisa melaut, lantaran masa berlaku surat izin penangkapan ikan (SIPI) yang mereka miliki sudah habis. Menurutnya, kondisi nelayan saat ini semakin terdesak. Mayoritas para nelayan menolak mengganti alat tangkap lain, dengan alasan hasilnya minim. Tak sebanyak kalau menggunakan jaring cantrang. Slamet menambahkan nelayan akhirnya memilih merencanakan demo. Tanggal 08 Januari 2018 digelar di daerah masing – masing, sedangkan tanggal 17 Januari mendatang, massa nelayan berangkat ke Jakarta, untuk menyuarakan aspirasi.

“Ini soal perut mas, jadi bagaimanapun harus kita perjuangkan. Konon pemerintah ingin supaya nelayan sejahtera. Ya dengan cantrang ini nelayan bisa sejahtera. Untuk alat tangkap lain yang ditawarkan oleh pemerintah, dulu saya sudah pernah pakai. Hasilnya minim sekali. Soal waktu demo itu baru perkiraan, nanti kepastiannya tinggal tunggu kabar dari paguyuban, “ jelasnya.

Praktis mulai tanggal 01 Januari 2018, semua nelayan cantrang menganggur. Mereka umumnya belum mempunyai pekerjaan pengganti. Kalaupun berada di pelabuhan, hanya sebatas melakukan perawatan kapal. Seorang nelayan kapal cantrang, Suntoro, warga Desa Mojowarno Kecamatan Kaliori mengaku tak mau nekat melaut, karena takut ditangkap aparat keamanan.

“Jadi bahasanya kita menunggu bagaimana hasil demo, masih serba belum pasti. Waktu yang ada digunakan untuk memperbaiki jaring atau cek mesin kapal, karena lama nggak dipakai. Saya terus terang nggak mau melaut dalam kondisi seperti ini. Sama saja bunuh diri mas. Urusannya bisa panjang, lha kalau disuruh nebus uang. Ratusan juta lho, “ ujar Suntoro.

Menteri Kelautan Dan Perikanan, Susi Pudjiastuti sudah pernah datang ke Kabupaten Rembang tanggal 07 Desember lalu. Susi kala itu mengisyaratkan tetap akan melarang jaring cantrang, karena mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya kelautan untuk masa depan. Ia mengklaim kebijakan tersebut demi kebaikan nelayan sendiri.

“Dulu banyak kapal asing di perairan Natuna dan Arafuru. Kapal asing kita tenggelamkan. Sekarang nelayan lokal, silahkan kalau mau masuk sana, saya izinkan. Pak Presiden menginginkan laut untuk masa depan. Bukan sekarang saja, tapi untuk 10, 100 atau ribuan tahun yang akan datang, “ tegas Susi.

Di pesisir pantai utara Kabupaten Rembang sendiri, jumlah kapal cantrang mencapai 300 an buah. Saat ini semua kapal disandarkan di dermaga Pelabuhan Tasikagung. Kurang dari 10 kapal yang masih belum berlabuh. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *