Flash News
No posts found

Bersengketa Dengan Isteri Mantan Bupati, Kini Menanti Vonis Hakim

Detail surat pernyataan yang dibuat Kades Tireman, terkait masalah tanah. (gambar atas) Slamet dan isterinya berada di depan warung. Slamet kini tinggal menunggu vonis.

Detail surat pernyataan yang dibuat Kades Tireman, terkait masalah tanah. (gambar atas) Slamet dan isterinya berada di depan warung. Slamet kini tinggal menunggu vonis.

Rembang – Slamet, (59 tahun) seorang pemilik warung di pinggir jalur Pantura Desa Tireman Kecamatan Rembang Kota, harus menjalani proses hukum, karena tuduhan menempati lahan milik orang lain tanpa izin. Lahan yang ditempati adalah milik Umi Jazillah Salim, isteri mantan Bupati Rembang, Moch. Salim.

Slamet, warga Desa Tireman, Rembang ini membeberkan warungnya berdiri di tanah ukuran 13 x 12 meter, dekat pintu gerbang masuk kota Rembang, sejak tahun 2005 lalu. Berdasarkan riwayat silsilah tanah, dirinya menduga lahan masih milik kerabat isterinya, Jumini, dibuktikan dengan akta jual beli. Apalagi sudah lama dirinya yang membayar SPPT tanah tersebut.
Belakangan ia dilaporkan ke polisi dan dijemput paksa oleh aparat kepolisian. Bahkan sempat pula ditodong menggunakan pistol, karena enggan datang ke Mapolres. Namun akhirnya ia bersedia ke kantor polisi, sekaligus ingin mendapatkan kejelasan.

Slamet mempertanyakan sertifikat asli sebagai bukti kepemilikan tanah ? Pasalnya, tanah berbentuk huruf L yang total luasnya mencapai 3.389 Meter persegi itu, diakui banyak orang. Sejak dulu sampai sekarang, ada 56 orang mengaku menjadi pemilik tanah. Namun saat ditanya bukti sertifikat asli, tidak bisa menunjukkan. Kalaupun ada, hanya foto copy.

“Saya dipegang 4 orang polisi, saya nggak mau. Kemudian tambah lagi 2 mobil, saya dijemput paksa belasan polisi. Ditodong pistol segala. Saya dikawal terus sampai Polres. Saya ajukan syarat harus ketemu Jazillah dan dikasih tahu sertifikat asli. Tapi di kantor polisi nggak ditunjukkan sertifikat asli, “ keluhnya.

Slamet menambahkan kecurigaannya semakin kuat, lantaran pihak Desa Tireman tidak pernah dilibatkan dalam pengukuran tanah, hingga keluar sertifikat dari Badan Pertanahan Nasional (BPN). Termasuk Kepala Desa yang sekarang, Zaefur telah membuat surat pernyataan tertanggal 25 September 2017, bahwa desa tidak terlibat dalam proses pembuatan sertifikat atas nama Umi Jazilah. Slamet menegaskan siap pindah dari lokasi tersebut, apabila sudah jelas tanah milik siapa, dibuktikan dengan sertifikat yang sah.

“Kalau ditanya saya masih bertahan atau keluar dari tanah situ, tergantung pemilik tanah. Kalau sudah jelas pemiliknya, saya siap pindah sewaktu – waktu. Desa Tireman menyatakan nggak tahu menahu, lha kok bisa muncul sertifikat. Proses buatnya gimana itu, kan mestinya desa tahu, minimal kulo nuwunlah, “ terang Slamet.

Penyidik Polres Rembang yang menangani kasus tersebut, Iptu Sutikna menegaskan pihaknya berpegangan pada sertifikat hak milik (SHM). Setelah beberapa kali ganti nama kepemilikan, ia membenarkan terakhir tanah dimiliki oleh Umi Jazilah, warga Kelurahan Magersari, Rembang. Saat petugas BPN diperiksa, mereka memastikan kepemilikan tanah Umi Jazilah sah.

“Sertifikat itu sudah ada cukup lama, kemudian balik nama, balik nama, lewat notaris atau PPAT kan nggak masalah. BPN yang kita interogasi mengesahkan sertifikat yang dimiliki bu Jazil sah dan asli. Kami berpegangan pada sertifikat hak milik. Siapa institusi yang berwenang menilai, ya tentu BPN, “ tegasnya.

AL Sutikna menambahkan sangkaan kepada Slamet menempati lahan orang lain tanpa izin diproses secara hukum, karena beberapa kali mediasi gagal membuahkan hasil. Hingga akhirnya kasus berlanjut ke persidangan di Pengadilan Negeri Rembang.

Slamet sudah dituntut oleh jaksa penuntut umum dengan hukuman 6 bulan penjara. Dijadwalkan Majelis Hakim akan membacakan vonis pada hari Senin mendatang.

Pada sidang sebelumnya, Umi Jazillah juga pernah dimintai keterangan oleh majelis hakim. Umi mengaku membeli tanah itu dari Imam Sujono. Ia tidak membayar secara langsung, namun menggunakan perantara orang lain. Saat akan dikonfirmasi wartawan setelah sidang, Jazil, begitu sapaan akrabnya, enggan memberikan penjelasan. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *