Flash News
No posts found

Ditanya Warga Tentang Pasar Wonokerto, Bupati Blak – Blakan

Kondisi Pasar Wonokerto Kecamatan Sale, seusai pembangunan.

Kondisi Pasar Wonokerto Kecamatan Sale, seusai pembangunan.

Sale – Warga Desa Wonokerto Kecamatan Sale mempertanyakan nasib Pasar Wonokerto. Meski telah selesai dibangun, namun belum jelas kapan akan dioperasikan, karena masih ada sejumlah kekurangan. Mulai dari penataan saluran air, maupun pemasangan lantai yang belum tuntas.

Suntari, warga Desa Wonokerto Kecamatan Sale mengatakan masyarakat menginginkan keberadaan pasar dapat meningkatkan roda perekonomian. Tapi dengan berbagai masalah yang muncul, dirinya ikut khawatir terhadap masa depan pasar tersebut.

“Kami menyampaikan terima kasih atas upaya pemerintah membuatkan Pasar Wonokerto. Kalau melihat tulisannya, itu kan pasar rakyat. Lha kira – kira kapan akan dibuka. Termasuk yang masih kurang – kurang itu, kapan dibereskan, “ ungkapnya.

Menanggapi masalah itu, Bupati Rembang, Abdul Hafidz menyatakan pada awalnya pembangunan Pasar Wonokerto dikerjakan pelaksana PT. Graha Yasa Anugrah dengan nilai kontrak Rp 5.087.260.000. Masa penggarapan antara 31 Agustus sampai 18 Desember 2017. Belakangan pemborong tersebut diketahui sudah diblack list oleh daerah lain, sehingga mestinya tidak layak mengerjakan Pasar Wonokerto. PT. Graha Yasa Anugrah diputus kontrak per tanggal 10 November 2017. Kala itu hanya berhak mendapatkan nilai pencairan anggaran sekira Rp 1,7 Miliar.

Setelah itu, pembangunan dilanjutkan oleh rekanan lain, PT. Bokama Reka Jaya, nilai kontraknya Rp 3,1 Miliar, diberikan masa waktu antara tanggal 30 November – 24 Desember 2017.
Uang masuk kembali ke kas negara berasal dari pencairan jaminan PT. Graha Yasa Anugrah akibat putus kontrak sebesar Rp 254.363.000 dan denda keterlambatan pekerjaan PT. Bokama Reka Jaya sebesar Rp 9,4 Juta. Maka uang negara untuk pembangunan Pasar Wonokerto hanya Rp 4.627.696.000 atau lebih hemat jika dibandingkan pasar dengan tipe yang sama, seperti Pasar Keling Jepara (Rp 5,34 M), Pasar Winong Pati (Rp 5,63 M) dan Pasar Wulung, Blora (Rp 5,59 M).

Menurut Hafidz, Pasar Wonokerto berisi 39 kios dan 198 los. Pihaknya sudah mendapatkan surat dari Kementerian Perdagangan, agar segera menggunakan Pasar Wonokerto sesuai peruntukan. Karena anggaran berasal dari pusat, maka perlu diadakan proses hibah dari kementerian kepada Kabupaten Rembang, maksimal setahun sejak pembangunan selesai.

“Pada tanggal 04 Januari 2018, kami dapat surat dari Kementerian Perdagangan, agar Pasar Wonokerto segera dimanfaatkan. Nah kami butuh data dari desa, berapa sebenarnya jumlah pedagang yang akan menempati. Setelah itu kita urus hibah dari pusat ke daerah. Syukur apabila sebelum setahun sudah beres. Nanti sebelum hibah, pedagang tidak akan dipungut retribusi, “ jelasnya.

Abdul Hafidz menimpali jika mengacu dengan kontrak, pembangunan Pasar Wonokerto sudah selesai. Tapi jika dianggap masih ada yang kurang, Pemkab memastikan siap melengkapi sarana pra sarana pasar tersebut.

“Sebenarnya jika melibat kontraknya, Pasar Wonokerto sudah selesai mas. Kalau ada yang masih kurang, nanti kami yang akan turun tangan, “ imbuhnya.

Pemkab Rembang menargetkan Pasar Wonokerto dapat digunakan secepatnya. Diharapkan bisa menjadi pusat perekonomian baru. Tak hanya bagi masyarakat Kecamatan Sale, tetapi juga untuk warga Jatirogo, Tuban dan sekitarnya, mengingat lokasinya dekat dengan perbatasan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Tuban, Jawa Timur. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *