Flash News
No posts found

Terkenal Sebagai Desa Penjual Air, Tapi Sebagian Warganya Kesulitan Air

Sebuah mobil yang digunakan untuk jualan air minum, masuk ke Desa Kajar Kecamatan Lasem, belum lama ini.

Sebuah mobil yang digunakan untuk jualan air minum, masuk ke Desa Kajar Kecamatan Lasem, belum lama ini.

Lasem – Siapa sangka Desa Kajar Kecamatan Lasem yang selama ini dikenal kaya sumber daya air, bahkan sanggup memasok air minum untuk warga di luar kampung, ternyata ada beberapa RT di desa tersebut justru sering mengalami kesulitan air.

Widayat, Kepala Desa Kajar Kecamatan Lasem menuturkan pada tahun 2014 lalu, saat kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan, dirinya mengusulkan pembangunan prasarana air bersih. Setelah lama menunggu, baru direalisasi pada tahun 2017. Alokasi anggarannya sekira Rp 450 an Juta.

Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Rembang tersebut difokuskan untuk kawasan RT 08, 09 dan 10, dengan jumlah penerima manfaat, rencananya mencapai 100 kepala keluarga lebih. Di lokasi 3 RT itu, sumber air tergolong sulit, karena tekstur tanahnya labil.

“Setiap musim kemarau selalu kekurangan air, karena daerah situ sumbernya susah, mengingat tanahnya labil. Jika warga ngebor atau menggali, mungkin sekarang keluar, tapi jarak berapa bulan sudah hilang sumbernya. Waktu itu ketika usul ya ditanya, lho Kajar kan jual air. Saya jelaskan kondisi sebenarnya, “ beber Widayat.

Widayat menambahkan pelaksana sempat mengebor air di 1 titik, namun gagal. Saat ini mengebor di titik lain dan berhasil mendapatkan sumber yang layak. Nantinya air dialirkan langsung ke rumah penduduk. Semua pemasangan instalasi pipa air gratis. Untuk distribusi air dikerjasamakan dengan PDAM Kabupaten Rembang, karena kebetulan PDAM juga mengambil air dari desanya. Warga kelak berhak mendapatkan subsidi, sehingga tarifnya cukup murah. Pemakaian 10 meter kubik kebawah, hanya membayar Rp 29 Ribu.

“Untuk pemasangan pipanisasi gratis semua, tarifnya kita dapat tarif rendah. Pembayaran bulanannya, waktu kita rapat dengan pak Wabup dan Dirut PDAM, ketentuan sesuai Perda, tapi yang kelas paling murah. Ini baru pengeboran, belum dimasukkan ke rumah. Air yang nyari dari pihak pemborongnya, kita terima bersih. Setelah ini, muda – mudahan masalah air bisa terpecahkan,“ ungkapnya.

Menurut Widayat, masih tersisa RT 07 yang warganya kesulitan air bersih pada musim kemarau. Hanya posisi geografis RT 07 berada di atas perbukitan, sehingga agak menyulitkan. Pihak desa berencana membuatkan sumur bor sendiri, kemudian ditarik ke atas, pada tahun 2019 atau 2020 mendatang. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *