Flash News
No posts found

Potensial, Namun Petani Di Kampung Ini Masih Setengah – Setengah

Tanaman kopi.

Tanaman kopi.

Sluke – Pengembangan tanaman kopi di kawasan perbukitan Desa Bendo Kecamatan Sluke masih setengah – setengah, padahal tekstur tanah dan udara sejuknya sangat cocok untuk budidaya kopi.

Rusdi, seorang perangkat desa yang tinggal di Dusun Manggarsuwung Desa Bendo membenarkan daerahnya memang potensial bagi kelangsungan tanaman kopi. Sayang mayoritas warga belakangan ini lebih memilih jati dan sengon, karena dianggap mampu menghasilkan pendapatan lumayan besar. Sementara kopi kurang menjanjikan, terbukti baru sebatas untuk tanaman selingan atau tumpang sari di area lahan perkebunan.

Biasanya ketika panen, luas 1 hektar tanaman kopi dapat menghasilkan 2 – 3 ton. Itu pun belum menggugah minat masyarakat.

“Desa kami ini kan berada di puncak perbukitan, jadi ya cocok untuk tumbuh kembangnya tanaman kopi. Cuman ya itu tadi warga milih tanaman yang ekonomis tinggi, seperti sengon dan jati. Begitu panen, kan dapat dana besar. Jumlah tanaman sich banyak, tapi kopi ini seakan – akan belum jadi primadona, “ jelasnya.

Rusdi menambahkan sekira 3 tahun lalu, kampungnya mendapatkan bantuan bibit kopi dari pemerintah sebanyak 1.000 batang. Kalau melihat antusias sekarang, menurutnya belum perlu menambah lagi. Ia mengibaratkan tanaman kopi hanya seperti pekerjaan sampingan, meski pemasarannya sendiri tergolong bagus.

“Tiap panen, sudah ada pengepul yang siap menampung hasil dari petani. Mulai panen, kemudian pengeringan dan siap jual itu kan butuh waktu lama juga. Jadi mungkin petani enggan ribet. Kalau ada peluang mengajukan bantuan tanaman, saya pikir milih jenis tanaman lain saja dulu, “ imbuh Rusdi.

Sementara itu, seorang pecinta kopi di Lasem, Sugiyanto berpendapat masyarakat di daerah pegunungan belum serius menggeluti tanaman kopi, lantaran kurang edukasi dari instansi terkait. Mestinya jangan sebatas diberi bantuan, tetapi juga diarahkan bagaimana cara perawatan dan menghasilkan panen biji kopi yang baik. Kalau perlu Pemkab Rembang menginisiasi pembuatan demplot atau proyek percontohan tanaman kopi. Sangat disayangkan potensi lahan yang luas, belum diberdayakan dan muncul kecenderungan pasokan kopi semakin menggantungkan daerah lain.

“Warga di sini pinter ngolah kok, gimana jadi kopi yang nikmat. Salah satunya Kopi Lasem, sudah moncer ke mana – mana. Lebih enak lagi, kalau pasokan barangnya juga didominasi dari daerah sendiri. Kalau berhasil, ekonomi bergerak dan bisa pula untuk wisata alam lho. Orang datang, kemudian minum kopi di dekat kebunnya langsung, “ ungkapnya. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *