Flash News
No posts found

Warga Geruduk Pasar Wonokerto, Masalah Ini Yang Membuat Kecewa

Pasar Wonokerto Kecamatan Sale yang dibiayai APBN, belum selesai pengerjaannya sampai hari Senin (12/02). Tampak pekerja masih menggarap saluran air. (gambar atas) Warga mendatangi Pasar Wonokerto.

Pasar Wonokerto Kecamatan Sale yang dibiayai APBN, belum selesai pengerjaannya sampai hari Senin (12/02). Tampak pekerja masih menggarap saluran air. (gambar atas) Warga mendatangi Pasar Wonokerto.

Sale – Sejumlah warga hari Senin (12 Februari 2018) menggeruduk Pasar Desa Wonokerto Kecamatan Sale, Kabupaten Rembang. Tidak hanya dari warga setempat, tetapi sebagian juga dari luar Wonokerto.

Mereka menanyakan kapan pasar tersebut dioperasikan, karena sampai sekarang kondisinya semrawut. Bahkan pekerja masih sibuk menyelesaikan kekurangan proyek.

Sunaryo, seorang warga Desa Sale mengaku penasaran untuk datang ke pasar baru tersebut, karena mendengar informasi mestinya bangunan pasar telah rampung bulan Desember 2017 lalu. Tapi setelah melihat kondisi pasar, ternyata belum selesai.

Begitu pula saat melihat ruangan bagian dalam pasar, menurutnya tidak cocok untuk pasar induk di wilayah Kecamatan Sale. Sunaryo menganggap los pedagang, justru sangat mirip dengan pasar daging.

“Kalau keadaannya kayak gini, mungkin masih lama. Saya harapkan cepat jadi, biar masyarakat sekitar sini ekonominya meningkat. Warga ya bingung liat pasar kok belum jadi. Yang antusias minat kan banyak. Cuman kalau untuk pasar induk nggak cocok, dalamnya seperti pasar daging, “ ungkap Sunaryo.

Hal senada diungkapkan para pedagang di pasar krempyeng Desa Wonokerto Kecamatan Sale. Semenjak dibuka 2 tahun terakhir, di lokasi pasar krempyeng terdapat 39 orang pedagang berjualan. Disebut krempyeng, karena hanya sebentar beroperasi, antara pukul 04.30 sampai dengan 09.00 pagi. Posisi  pasar krempyeng hanya berjarak 200 an meter dari pasar Wonokerto yang baru selesai dibangun.

Warti, salah satu pedagang pasar krempyeng Desa Wonokerto menuturkan ingin segera pindah ke pasar baru. Alasannya tempat yang sekarang kurang representatif, sehingga jumlah barang dagangan terbatas dan rawan rusak. Kalau seandainya sudah pindah menuju pasar baru, harapannya dapat berjualan lebih lama dan leluasa menyimpan barang, tanpa harus berulang kali bongkar pasang.

Warti menambahkan sampai saat ini belum memperoleh informasi, kapan pedagang pasar krempyeng dipindah. Hanya muncul kabar akan diprioritaskan mendapatkan tempat.

“Kenapa ingin pindah ke sana, karena bisa bawa barang banyak dan bisa jualan sampai sore. Inginnya sich secepatnya, tapi belum dibuka pendaftaran. Lha kalau di sini, barang ditumpuk – tumpuk seadanya kan mudah rusak. Selesai jualan, barang kita bawa pulang lagi, “ ujarnya.

Pantauan Senin pagi di pasar baru Wonokerto, 9 orang pekerja tampak sibuk menuntaskan pembuatan saluran air bagian depan dan bagian dalam sebelah utara. Sementara halaman depan maupun sisi selatan pasar, yang akan digunakan untuk area parkir, masih berupa tanah dan belum dipaving. Keadaannya memprihatinkan, lantaran banyak kubangan air.

Ketika dikonfirmasi, beberapa pekerja pasar memperkirakan penataan saluran air akan selesai seminggu lagi. Sedangkan masalah pemavingan, mereka belum tahu kapan dimulai.

Sebelumnya, pembangunan Pasar Wonokerto Kecamatan Sale yang berisi 39 kios dan 198 los menuai polemik. Kali pertama ditangani PT. Graha Yasa Anugrah, dengan nilai kontrak Rp 5 Miliar lebih, bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Belakangan rekanan tersebut diputus kontrak, gara – gara ketahuan diblack list oleh daerah lain.

Pemborong kemudian diganti PT. Bokama Reka Jaya, dengan batasan waktu akhir tahun 2017. Tapi hingga bulan Februari ini, penggarapan pasar masih terus berlangsung. Meski nyata – nyata terjadi pelanggaran, namun tak satupun aparat penegak hukum turun tangan mengusut. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *