Flash News
No posts found

Rebut Juara I Se Jawa, Jadikan Kawis Menjadi Obat Nyamuk Elektrik

Detail produk olahan kawis untuk obat nyamuk. (gambar atas) 3 siswi SMK Avicena Lasem menggondol juara I, dalam lomba artikel ilmiah remaja.

Detail produk olahan kawis untuk obat nyamuk. (gambar atas) 3 siswi SMK Avicena Lasem menggondol juara I, dalam lomba artikel ilmiah remaja.

Lasem – Tiga siswi SMK Avicena Lasem berhasil membuat obat nyamuk elektrik, yang terbuat dari ekstrak kulit dan buah Kawis. Karya tersebut akhirnya sukses menjadi juara I dalam Lomba Artikel Ilmiah Remaja tingkat SMK Kesehatan se Jawa, yang baru selesai digelar oleh Universitas Muhammadiyah Semarang.

Ketiga siswi SMK Avicena tersebut yakni Mitha Alviani siswi kelas X dari Sedan, Intan Afrida Zulfami siswi kelas XI dari Desa Pasedan Kecamatan Bulu dan Zahrotun Nafisah siswi kelas XII, warga Desa Sumbergirang Kecamatan Lasem.

Zahrotun Nafisah menceritakan sebelumnya melakukan penelitian sejumlah tanaman, mulai daun kemangi, daun luntas, hingga kulit durian. Namun akhirnya mereka sepakat meneliti buah kawis, karena merupakan buah khas Kabupaten Rembang.

Jika umumnya kawis digunakan untuk minuman, kali ini kulit dan isi buahnya diolah menjadi anti nyamuk. Bentuknya berupa lempengan – lempengan kecil berukuran 4 x 2 centi meter. Dari 10 kali percobaan, ternyata 6 kali berhasil mengusir dan membunuh nyamuk. Hal itu karena kawis memiliki zat kandungan aktif yang dapat merusak sistem pernafasan nyamuk. Kalau dipakai sehari – hari, menurutnya kawis aman untuk anti nyamuk, mengingat berbahan alami, tanpa campuran zat kimia. Setelah menjadi juara I, Zahrotun bersama rekan – rekannya semakin tertantang membuat penelitian lain, yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.

“Kita mudah cari buah Kawis, karena banyak tumbuh di sekitar lingkungan warga. Selain penelitian, juga untuk mengenalkan kawis Rembang kepada dunia luar. Banyak yang belum tahu kan, zat di dalam kawis sangat tidak disukai nyamuk. Setelah kami dapat juara I, seneng sekali dan rasa capek kemarin terbayar. Yang pasti kami nggak akan berhenti sampai di sini, “ ungkap Zahrotun.

Guru pembibing di SMK Avicena Lasem, Dyah Afi Nurlaeli menyatakan dirinya harus pintar membagi waktu, selama mendampingi anak – anak, agar aktivitas lain tidak terganggu. Ketika penelitian, kendala yang paling terasa adalah cuaca sering hujan. Padahal untuk pengeringan bahan dan sample membutuhkan sinar matahari yang cukup. Kalau menggunakan alat pemanas oven, dikhawatirkan merusak zat aktif buah kawis. Selain itu, pihaknya juga kesulitan menangkap nyamuk hidup – hidup untuk obyek penelitian. Beruntung, semua kendala tersebut dapat teratasi dan tim dari sekolahnya menyabet juara I, mengalahkan puluhan sekolah lain.

“Fokus, semangat dan manajemen waktu yang efektif, mungkin itu tips keberhasilan kami. Kemarin memang sempat muncul kendala cuaca. Tapi kita menghindari penggunaan oven untuk mengeringkan bahan. Ketika panas, bahan baku cepet – cepet dijemur. Yang lucu, gimana nyari nyamuk hidup – hidup, nah setelah dengan berbagai cara, dapat juga nyamuknya, “ ujar wanita yang akrab disapa Vivi ini.

Obat nyamuk elektrik dari ekstrak kulit dan buah kawis hasil karya siswi SMK Avicena Lasem, sementara baru dimanfaatkan untuk kalangan terbatas. Mereka belum berencana membuat dalam skala besar dan dipasarkan secara luas, karena harus melewati sejumlah tahapan. Namun kedepan angan – angan memasarkan tetap ada, hal itu menjadi program jangka panjang sekolah. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *