Flash News
No posts found

Kisah Inspiratif : Sukses Membangun GOR Bulu Tangkis, Berawal Dari Kayu Limbah

Firby JW Hall tampak dari depan. (gambar atas) Bambang Pulung, pendiri Firby JW Hall.

Firby JW Hall tampak dari depan. (gambar atas) Bambang Pulung, pendiri Firby JW Hall.

Rembang – Kisah pria yang satu ini tergolong cukup menarik. Ia berhasil membangun sebuah gelanggang olahraga (GOR) bulu tangkis Firby JW Hall, yang mayoritas bahannya memanfaatkan kayu jati limbah.

Yah..begitulah perjalanan inspiratif dari seorang Bambang Pulung (55 tahun), warga yang tinggal di Desa Kabongan Kidul, tepatnya sebelah barat rumah sakit dr. R. Soetrasno Rembang.

Sejak awal tahun 2016 lalu, Bambang Pulung mengawali membuat GOR bulu tangkis di pinggir Jl. Piere Tendean atau biasa disebut Jalan Cinta. Bangunan itu sering menarik perhatian pengguna jalan yang melintas, karena nuansa kayu jati sangat kental, ditata sedemikian rupa. Tidak hanya bagian luar, daun pintu dan setiap sudut GOR, tetapi semua lapangan dan tribun tempat duduk penonton, juga terbuat dari kayu jati limbah, termasuk kulit jati pun turut digunakan. Bukannya jelek, namun penampilan bangunan justru terlihat sangat artistik.

Bambang Pulung menceritakan dirinya kebetulan asli Jepara, menekuni profesi pembuat mebelair. Ia membenarkan kayu – kayu yang dipakai untuk lapangan bulu tangkis, interior maupun tribun merupakan kayu limbah, dikumpulkan sejak tahun 1993 lalu. Kayu berbagai ukuran kemudian diolah, sesuai kebutuhan.

Saat ini dari target membuat 5 lapangan, baru jadi 3 lapangan. Kebetulan ketika akan diselesaikan, bahan baku 2 lapangan dipesan orang, sehingga harus dipasang ke tempat lain. Mereka tertarik dengan lapangan bulu tangkis dengan dasar kayu jati di Firby JW Hall. Untuk menggarap 1 lapangan lengkap, perkiraan dibandrol biaya Rp 40 an Juta.

“Lama banget saya mengumpulkan kayu – kayu limbah itu. Sekaligus untuk menunjukkan sama temen – temen pengusaha kayu, bahwa kayu jati ukuran apapun, bisa dimanfaatkan kok. Begitu jadi lapangan bulu tangkis, kayu limbah bekas pohon Perhutani tersebut saya prediksi kuat lama, bisa sampai 50 tahun. Semua kan ada perawatannya, “ ungkap Bambang.

Bambang sulit menyebutkan berapa biaya yang dikeluarkan, guna membangun GOR Firby JW Hall. Begitu pula soal target kapan selesai, baginya seperti air mengalir saja. Bambang selalu memegang prinsip 4 M, yakni memohon kepada Allah SWT, menjalani, mensyukuri dan menikmati.

Saat ditanya apa motivasinya membuka GOR bulu tangkis ? pria dua anak yang berpenampilan sederhana tersebut berharap dapat memberikan sedikit perhatian terhadap pembinaan anak – anak muda yang senang olahraga bulu tangkis. Dirinya ingin kelak suatu ketika akan muncul pemain level dunia dari Kabupaten Rembang. Tak hanya untuk olahraga, keberadaan Firby JW Hall juga menjadi gedung serba guna.

“Pergaulan anak – anak muda sekarang kan rentan sekali oleh pengaruh negatif. Saya ingin sekali GOR ini bermanfaat positif, untuk pembinaan prestasi cabang olahraga bulu tangkis, biar mereka terarah. Kita buka dari jam 8 pagi sampai 10 malam. Siapa tahu 5, 10 atau 20 tahun mendatang, muncul atlet berbakat yang mampu menembus tingkat internasional dari sini. Semoga mimpi saya dapat terwujud, “ imbuhnya.

Apabila semua infrastruktur penunjang sudah siap, rencananya beberapa turnamen bulu tangkis akan digelar di GOR Firby JW Hall. Bambang tak turun sendiri, karena pengelolaan GOR diserahkan kepada putri keduanya, yang juga menggeluti dunia bulu tangkis. (MJ – 81).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *